TribunJogja/
Home »

Jawa

Miris, Jumlah Seniman Tatah Sungging Semakin Sedikit

Yang memprihatinkan semakin sedikit generasi yang minat untuk melestarikan seni tatah sungging.

Miris, Jumlah Seniman Tatah Sungging Semakin Sedikit
TRIBUNJOGJA.COM / Angga Purnama
Dua bocah bermain dengan wayang kulit yang belum diwarnai saat pameran wayang kulit berlangsung di RSPD Klaten, Senin (11/9) 

TRIBUNJOGJA.COM - Dewasa ini, jumlah seniman tatah sungging atau seni pembuatan wayang kulit semakin sedikit.

Tak terkecuali seniman tatah sungging di Kabupaten Klaten.

Ketua Seniman Muda Klaten Club (SMKC), Suluh Juniarsah mengatakan saat ini jumlah penatah sungging di Klaten hanya ada sepuluh seniman.

Bahkan saat ini seniman-seniman pembuat wayang kulit itu sudah memasuki usia senja.

"Keberadaan mereka (seniman tatah sungging) kian langka. Meskipun masih aktif, namun saat ini rata-rata usianya sudah tua," ungkapnya.

Saat ini terdapat tiga sentra kerajinan wayang kulit di Kabupaten Klaten, yaitu di Desa Danguran Kecamatan Klaten Selatan, Desa Sidowarno Kecamatan Wonosari, dan Desa Somokaton Kecamatan Karangnongko.

Menurutnya yang memprihatinkan semakin sedikit generasi yang minat untuk melestarikan seni tatah sungging.

Padahal hasil karya seniman tatah sungging asal Klaten banyak diminati bahkan oleh generasi raja-raja Keraton Surakarta dan Yogyakarta.

"Ini yang memprihatinkan, padahal dulu banyak dipakai untuk pertunjukan di Keraton Surakarta dan Yogyakarta. Yang paling terkenal karya Ki Cermo Dongso, empu tatah sungging dari Desa Palar yang populer di era Paku Buwono II dan III," paparnya. (*)

Penulis: ang
Editor: Gaya Lufityanti
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help