TribunJogja/

Meski Telah Habiskan Miliaran Rupiah, Taman Batu Gunungkidul Tak Termanfaatkan Optimal

Keberadaan taman batu ini menjadi konsekuensi yang ditetapkan sebagai anggota Global Geopark Network, sehingga dapat lolos revalidasi dan tak berubah.

Meski Telah Habiskan Miliaran Rupiah, Taman Batu Gunungkidul Tak Termanfaatkan Optimal
TRIBUNJOGJA.COM / Rendika Ferri
Pekerja tengah membangun konstruksi pelataran Taman Batu, di Mulo, Playen, Gunungkidul, Selasa (12/9). 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Rendika Ferri Kurniawan

TRIBUNJOGJA.COM, GUNUNGKIDUL - Keberadaan Taman Batu atau Stone Garden yang ada di Ngingrong, Wonosari, Gunungkidul dinilai tidak berfungsi secara optimal.

Bangunan senilai Rp 3,5 miliar tersebut gagah berdiri namun sepi pengunjung.

Taman batu tersebut dipergunakan sebagai tempat pameran batu yang berasal dari Geopark Gunungsewu dibangun pada 2016 sebagai syarat dari keanggotaan Global Geopark Network.

Namun, pada perjalanannya Stone Garden tak diminati pengunjung.

Kepala Dinas Pariwisata Gunungkidul, Saryanto, mengakui jika Taman Batu Gunungkidul itu tak termanfaatkan dengan baik.

Mulanya taman batu tersebut dipergunakan layaknya sebagai museum batu yang memamerkan batu dari Geosite yang ada di Geopark Gunungsewu.

Namun pada perjalanannya, tempat tersebut sepi pengunjung dan tak termanfaatkan dengan baik.

Padahal anggaran yang dipergunakan untuk membangun berjumlah Rp 3,5 miliar lebih.

"Kami akui tempat tersebut kini kurang diminati oleh pengunjung. Padahal sudah kami buat sedemikian rupa agar dapat menarik wisatawan untuk berkunjung," ujar Saryanto, Selasa (12/9).

Saryanto menuturkan, secara perhitungan ekonomi maka akan merugi, dengan biaya pembangunan yang besar dibandingkan pemanfaatan yang sedikit.

Namun demikian, keberadaan taman batu ini menjadi konsekuensi yang ditetapkan sebagai anggota Global Geopark Network, sehingga dapat lolos revalidasi dan tak berubah status keanggotaannya.

Meskipun begitu, bangunan tersebut akan tetap dikembangkan secara berjenjang sehingga dapat berfungsi secara optimal.

Masyarakat sekitar pun diberdayakan dan turut menjadi pengelola sehingga juga menghasilkan multiplier effect.

"Kami akan kembangkan secara bertahap agar tak terbengkalai begitu saja," katanya.(*)

Penulis: rfk
Editor: Gaya Lufityanti
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help