TribunJogja/

Perawat Indonesia Memiliki Masa Depan yang Menjanjikan di Taiwan

Ada beberapa kendala yang membuat perawat di Indonesia hingga saat ini masih kesulitan untuk bisa bekerja di Taiwan

Perawat Indonesia Memiliki Masa Depan yang Menjanjikan di Taiwan
Tribunjogja.com/Kurniatul Hidayah
Caption: Direktur Utama RS PKU Muhammadiyah Kota Yogyakarta, dr H Joko Murdiyanto SpAn MPH pada saat pemotongan pita peresmian kantor TIHEC, Senin (11/9/2017) 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Kurniatul Hidayah

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Direktur utama RS PKU Muhammadiyah Kota Yogyakarta, dr H Joko Murdiyanto SpAn MPH menjelaskan bahwa peluang kerja sebagai perawat di Taiwan sangatlah besar.

Saat ini, perawat yang berasal dari Indonesia yang bekerja di sana tidaklah banyak. Perawat di Taiwan sementara ini banyak didatangkan dari Filipina.

Ada beberapa kendala yang membuat perawat di Indonesia hingga saat ini masih kesulitan untuk bisa bekerja di salah satu pulau yang berada di Asia Timur tersebut.

"Kendala budaya dan bahasa yang selama ini dihadapi SDM dari Indonesia untuk bekerja di sana," bebernya, seusai acara pembukaan Taiwan Indonesia Healthcare Education Center (TIHEC) di RS PKU Muhammadiyah, Senin (11/9/2017).

Padahal, lanjutnya, tenaga medis utamanya perawat sangat dibutuhkan di sana. Tidak hanya untuk kerja di rumah sakit, tapi juga untuk bekerja untuk merawat orang tua.

"Tapi bukan di Panti Jompo ya. Ada yang di rumah sakit, atau di rumah. Tapi statusnya perawat," tegas Joko.

Selain gaji yang lebih besar, jarak antara Taiwan dan Indonesia tidak terlalu jauh sehingga masih bisa dijangkau ketika dilakukan pengiriman tenaga perawat dari Indonesia ke Taiwan.

Pihaknya baru saja menandatangani MoU tentang kerjasama antara RS PKU Muhammadiyah dengan Taiwan dalam bidang pendidikan maupun pelayanan kesehatan yang juga diwujudkan dengan adanya kantor TIHEC di RS PKU Muhammadiyah Kota Yogyakarta.

Rencananya dalam waktu dekat, sekitar 20-30 tenaga medis, khususnya perawat RS PKU Muhammadiyah akan dikirim ke Taiwan untuk mendapatkan pelatihan selama kurang lebih satu bulan.

"Setelah itu mereka kembali ke sini, dan akan melatih calon perawat yang akan bekerja di Taiwan. Tidak hanya dilatih keterampilan, namun juga soal budaya dan bahasa yang selama ini menjadi kendala perawat Indonesia. Sehingga harapannya ini mampu menyalurkan tenaga kerja yang berkualitas dan membuka pintu hubungan kerjasama bilateral antar keduanya," urai dokter spesialis anastesi tersebut.(kur)

Penulis: kur
Editor: Ari Nugroho
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help