TribunJogja/

Lahan Magersari Kedundang untuk Relokasi 48 KK Terdampak Bandara

Lahan yang disiapkan seluas 6000 meter persegi dan akan dibangun rumah sebanyak 50 unit.

Lahan Magersari Kedundang untuk Relokasi 48 KK Terdampak Bandara
TRIBUNJOGJA.COM/SINGGIH WAHYU NUGRAHA
Musyawarah di Balai Desa Kedundang terkait penggunaan lahan PAG untuk tempat relokasi bersistem magersari bagi warga terdampak bandara. 

TRIBUNJOGJA.COM, KULONPROGO - Pembangunan hunian relokasi di tanah magersari milik Pura Pakualaman (PA) bagi warga terdampak pembangunan bandara di Kulonprogo berpindah tempat.

Jika semula direncanakan dibangun di atas lahan Paku Alam Ground (PAG) wilayah Kaligintung, lokasinya kini bergeser ke wilayah Desa Kedundang.

Perubahan lokasi ini menurut Bupati Kulonprogo Hasto Wardoyo karena sertifikat lahan di Kedundang beratas nama Kadipaten Pakualaman.

Sedangkan lahan di Kaligintung sertifikatnya atas nama pribadi perseorangan yakni Paku Alam VIII.

Jika lahan itu tetap digunakan, dikhawatirkan ada polemik muncul dari pada keturunan PA VIII.

"Kalau putra keturunannya menuntut kan bisa jadi masalah. Makanya, sekarang di pindah ke sini (Kedundang)," kata Hasto seusai musyawarah bersama pihak Pura Pakualaman dan warga pengguna PAG di Balai Desa Kedundang, Senin (10/9/2017).

Lahan yang disiapkan menurut Hasto berkisar luas 6000 meter persegi dan akan dibangun rumah sebanyak 50 unit dengan masing-masing petak diberi keluasan sekitar 100 meter persegi.

Meski tak menyebut rinci, Hasto mengatakan sudah ada dana yang disiapkan untuk pembangunan rumah relokasi tersebut dan akan segera dikebut pembangunannya dalam dua bulan saja.

Prototype desain rumah menurutnya sama dengan yang dibangun di titik relokasi lainnya.

Rumah tersebut sedianya akan digunakan untuk relokasi 48 kepala keluarga dari warga terdampak bandara.

Adapun dua rumah yang tersisa akan diberikan untuk dua warga yang selama ini menempati lahan PAG di Kedundang tersebut.

Dua warga tersebut diketahui tidak memegang status magersari atas penggunaan tanah PAG tersebut.

Dengan demikian, menurut Hasto, keduanya hanya memanfaatkan lahan yang bukan jadi hak miliknya.

Namun begitu, dengan akan digunakannya lahan tersebut, Hasto memastikan kedua warga tidak akan ditelantarkan.

"Kami tetap menghormati karena dia adalah warga Kulonprogo. Kalau butuh rumah untuk disewakan, ya akan kami carikan. Kalau mau disitu terus, rumah percontohannya nanti bisa dibangun tapi sementara dia pindah dulu ke tempat lain," kata Hasto.(*)

Penulis: ing
Editor: Gaya Lufityanti
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help