TribunJogja/

Garebeg Besar Kraton Yogyakarta Akan Digelar Besok, Warga dan Penonton Diharap Patuhi Aturan Ini

Gunungan yang berisi hasil bumi tersebut merupakan simbol sedekah raja kepada rakyatnya sekaligus wujud rasa syukur kepada Allah SWT.

Garebeg Besar Kraton Yogyakarta Akan Digelar Besok, Warga dan Penonton Diharap Patuhi Aturan Ini
Tribun Jogja/ Kurniatul Hidayah
Enam gunungan tertata rapi di area Magangan Kompleks Keraton, Jumat pagi (1/9/2017). 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Kurniatul Hidayah

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Perayaan Idul Adha yang dilakukan sejak malam takbir hingga Jumat (1/9/2017) hari ini, yang meliputi ibadah Salat Ied dan juga penyembelihan hewan kurban, diikuti antusias oleh umat Muslim yang ada di DIY.

Tak berhenti sampai di sana, Sabtu (2/9/2017) besok, masyarakat dan wisatawan yang ada di DIY pun masih akan disuguhkan oleh perayaan Hari Raya umat Muslim yang dikemas dalam acara Garebeg Besar.

Kabid Humas Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) DIY, Amiarsi Harwani, belum lama ini menuturkan bahwa pada perayaan Idul Adha 1348 H ini, Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat atau Keraton Yogya akan menyelenggarakan Grebeg Besar pada Sabtu (2/9/2017) mulai pukul 10.00.

"Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, pada Garebeg Besar ada tujuh gunungan atau pareden yang terdiri atas gunungan kakung, puteri, gepak, darat, pakuwuh," ungkapnya.

Ami menambahkan, lima gunungan di antaranya diarak ke Masjid Gede Kauman, sedangkan dua gunungan menuju Kepatihan dan Puro Pakualaman.

Gunungan yang berisi hasil bumi tersebut merupakan simbol sedekah raja kepada rakyatnya sekaligus wujud rasa syukur kepada Allah SWT.

Dalam ritual yang rutin dilaksanakan tersebut, biasanya terdapat iringan pasukan Keraton yang terdiri dari prajurit Wirobrojo, Ketanggung, Bugis, Daeng, Patangpuluh, Nyutro yang mengenakan seragam masing-masing yang dilengkapi senjata tradisional tombak, keris, serta senapan.

Selain itu juga Kebun Binatang Gembira Loka selalu berperan serta dengan menyertakan gajah dalam iring-iringan pengantaran pareden ke Kepatihan dan Puro Pakualaman.

"Berkaca dari pengalaman Garebeg Syawal, untuk keamanan, kelancaran dan ketertiban perjalanan iring-iringan, kepada masyarakat yang menonton dimohon untuk tidak berdiri dan berjalan ataupun melakukan pengambilan gambar terlalu dekat dengan gajah karena dapat menimbulkan rasa tidak nyaman binatang tersebut dan hal tersebut dikhawatirkan mengakibatkan hilang kendali," imbaunya. (*)

Penulis: kur
Editor: ton
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help