TribunJogja/

Brokoli dan Kol Disebut Bisa Membunuh Sel Kanker, Benarkah? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Obat tersebut ternyata bisa membunuh sel melanoma pada manusia, dan menghambat pertumbuhan sel melanoma

Brokoli dan Kol Disebut Bisa Membunuh Sel Kanker, Benarkah? Ini Penjelasan Ilmiahnya
Health Digest
Ilustrasi: Brokoli 

TRIBUNJOGJA.COM - Kita semua tahu bahwa sayur adalah makanan sehat.

Namun penelitian baru menemukan bahwa selain menyehatkan, sebuah senyawa dalam sayuran seperti brokoli dan kembang kol memiliki kemampuan melawan melanoma atau kanker kulit.

Dalam study yang hasilnya dimuat di European Journal of Medicinal Chemistry, para peneliti mengembangkan obat dari senyawa alami dari brokoli dan kembang kol yang disebut isothiocyanates.

Mereka mencobakan obat itu pada sel melanoma manusia dan tikus.

Hasilnya, obat tersebut ternyata bisa membunuh sel melanoma pada manusia, dan menghambat pertumbuhan sel melanoma pada tikus hingga 69 persen.

Ia juga tidak membahayakan sel lain yang sehat.

Selain itu, ditemukan juga bahwa obat ini dengan mudah terbuang dari tubuh, sehingga bisa mengurangi kemungkinan adanya efek samping, suatu hal yang sering ditemukan pada obat melanoma lainnya.

Bagaimana senyawa ini bekerja memang masih belum jelas, namun para peneliti menduga isothiocyanates menghambat proses pembelahan dan pertumbuhan sel kanker.

Meski begitu, penelitian ini masih berada pada tahap awal, para peneliti belum berani mengatakan bahwa makan brokoli saja bisa menyembuhkan kanker kulit.

Tentu itu tidak cukup.

"Namun ada harapan bahwa brokoli dan kembang kol bisa menurunkan risiko seseorang terkena kanker kulit," ujar peneliti Arun Sharma, Ph.D. "Itu merupakan rekomendasi yang baik untuk pencegahan, meskipun senyawa dalam sayur itu saja mungkin tidak cukup untuk pengobatan atau terapi.'

Tapi ini jangan mengecilkan niat Anda untuk lebih banyak makan sayur.

Dalam penelitian sebelumnya, disebutkan orang yang makan 10 porsi buah dan sayuran setiap hari, 13 persen lebih kecil kemungkinannya untuk terkena kanker.

Selain juga bonus turunnya risiko penyakit jantung dan stroke. (KOMPAS.com)

Editor: ton
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help