TribunJogja/

Pemda DIY Berupaya Hidupkan Produksi Garam di Samas

Di sana ditemukan, tempat yang masih potensial untuk dihidupkan lagi untuk memproduksi garam adalah di Pantai Samas.

Pemda DIY Berupaya Hidupkan Produksi Garam di Samas
Tribun Jogja/ Kurniatul Hidayah
Pemandangan Pantai Selatan Bantul dari atas Mercusuar Samas. 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Kurniatul Hidayah

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Kelangkaan garam dan juga harganya yang merangkak naik di pasaran membuat Pemda DIY berupaya untuk mencari jalan keluar.

Perlu diketahui bersama, bahwa DIY tidak memproduksi garam untuk keperluan massal. Namun sebenarnya, petani garam pernah 'bercocok tanam' di Pantai Sepanjang, Parangtritis, dan Samas.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) DIY, Sigit Sapto Rahardjo menjelaskan dia mendapatkan tugas dari Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X untuk melakukan survei ke beberapa lokasi bekas ladang garam tersebut.

Di sana ditemukan, tempat yang masih potensial untuk dihidupkan lagi untuk memproduksi garam adalah di Pantai Samas.

"Di Samas, baknya masih ada dan sudah siap bila akan dihidupkan lagi. Lahannya juga masih ada," jelasnya kepada Tribun Jogja, Kamis (27/7/2017).

Sementara itu, di Parangtritis sendiri ia melihat sementara ini tidak visible untuk produksi garam. Alasannya adalah ketidaktersediaan lahan yang ketika ditarik dari bibir pantai ke utara akan berbenturan dengan bukit.

Sementara di Samas, Sigit menilai lahan untuk produksi garam masih cukup luas.

"Sebenernya (garam) yang lebih baik itu ada di Pantai Sepanjang (Gunungkidul). Mereka dulu memproduksi garam, tapi untuk kebutuhannya sendiri bukan untuk dijual. Sekarang di sana lebih banyak untuk pariwisata. Makanya kita coba lihat yang paling memungkinkan dihidupkan di Samas," urainya.

Ia menuturkan, bahwa pihaknya dulu telah mengadakan pelatihan di lokasi tersebut agar mereka bisa memproduksi garam secara mandiri. mereka pun sudah mulai operasional.

Namun tak berselang lama, bisnis garam pun ditinggalkan karena dinilai kurang representatif.

Selain itu, beberapa kendala juga dirasakan petani garam di area pantai selatan DIY. Angin yang bertiup kencang membuat pasir bercampur dengan garam yang tengah dikeringkan di lahan.

Selain itu, mengambil garam harus dilakukan dari tengah laut dikarenakan tepiannya dekat dengan muara sehingga kadar garamnya sangat rendah.

"Kami sudah melakukan pendekatan lagi (dengan petani garam Samas). Tentang masalah dekat dengan muara dan juga angin, nanti akan kita carikan solusi lalu dikomunikasikan kembali," beber Sigit. (*)

Penulis: kur
Editor: oda
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help