TribunJogja/

Pemilihan Dimas-Diajeng Bukan Sekedar Pemilihan Duta Pariwisata

Pemilihan Dimas dan Diajeng Kota Jogja 2017 memiliki misi untuk mengajak dan melibatkan kaum muda dalam bidang pariwisata dan budaya.

Pemilihan Dimas-Diajeng Bukan Sekedar Pemilihan Duta Pariwisata
Tribun Jogja/ Pradito Rida Pertana
30 Finalis hadir dalam jumpa pers Dimas Diajeng Kota Yogya 2017 yang bertempat di Neuve Hotel Yogyakarta, Kamis (20/7/2017) 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Penyelenggaran kegiatan pemilihan Dimas-Diajeng yang digelar setiap 2 tahun sekali hingga kini masih berlangsung.

Pemilihan Dimas-Diajeng bukan sekedar pemilihan untuk menentukan anak muda yang hanya bertugas mempromosikan pariwisata saja.

Pemilihan Dimas dan Diajeng Kota Jogja merupakan salah satu bentuk upaya yang dilakukan untuk melakukan persuasi pada kaum muda dan khalayak umum terkait pelestarian budaya dan pariwisata.

Pemilihan Dimas dan Diajeng Kota Jogja 2017  memiliki misi untuk mengajak dan melibatkan kaum muda dalam bidang pariwisata dan budaya.

Sekaligus bertujuan untuk membentuk karakter generasi muda yang meliputi Sawiji yang berarti konsentrasi tinggi atau penjiwaan total. Greget yang bermakna semangat tanpa bertindak kasar. 

Sengguh yang berarti penuh percaya diri namun rendah hati. Dan Ora Mingkuh yang berarti pantang mundur dan disiplin diri, hal tersebut sesuai dengan semangat yang diusung oleh Paguyuban Dimas Diajeng Jogja yaitu Muda, Dinamis dan Berbudaya.

Pada pemilihan Dimas dan Diajeng Kota Joga tahun 2017 ini, terdapat hal yang baru dalam proses seleksi.

Yakni, seleksi yang pada awalnya dilakukan melalui seleksi berkas terlebih dahulu pada tahun ini dilakukan melalui unjuk bakat di Jogja Kreatif Car Free Day.

Dalam hal ini para peserta audisi menunjukkan bakatnya baik dalam bidang akademik maupun non akademik seperti kesenian, pertunjukkan, dan lain lain.

Pemilihan Dimas dan Diajeng Kota Jogja diawali dengan proses unjuk bakat, seleksi unjuk bakat di Jogja Kreatif Car Free Day, didapatkan 39 semifinalis diajeng dan 26 semifinalis dimas yang pada tahapan akhir seleksi mereka harus menyelesaikan psikotest dan wawancara. 

Seleksi psikotest tertulis yang bertempat di Nueve Hotel dilaksanakan pada Sabtu, 22 April 2017. Kemudian pada akhir penjurian dilakukan di Dinas Pariwisata yakni tes wawancara.

Penjurian pun dilakukan lebih ketat dari sebelumnya dengan menghadirkan para ahli di bidangnya, antara lain Drs. Ahmad Charris Zubair (bidang kebudayaan), Meika Hazim (bidang public speaking dan media), Dr. Indria Laksmi Gamayanti,M.Psi.,Psi dari Lembaga Pengembangan Diri Kemuning Kembar (bidang psikologi), Edwin Ismedy Himna (bidang pariwisata), dan Hangga Fathana, S.IP.,B.Int.St.,M.A. (pengetahuan dan bahasa asing).

Setelah melalui tahapan penjurian sebagai tahapan selanjutnya para semifinalis mengikuti sarasehan yang bertempat di Taman Pintar sekaligus mengumumkan secara resmi 30 besar Finalis Dimas Diajeng Kota Jogja .

Setelahnya seluruh finalis menampilkan pertunjukan opera dengan lakon Wijaya Wijayanti di Gedung Societet, Taman Budaya yang dibuka untuk umum.

Puncaknya, penjurian tahap terakhir dan persiapan pertunjukkan pada malam Grand Final yang diselenggarakan pada Minggu 23 Juli 2017 di Pagelaran Kraton Yogyakarta. (*)

Penulis: sis
Editor: oda
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help