TribunJogja/
Home »

Jawa

Selain Tak Efektif, Fogging Nyamuk Bisa Sebabkan Ini pada Alat Kelamin Anak Laki-laki

Pasalnya, hingga sekarang masih belum ditemukan vaksin atau obat untuk menangani penyakit tersebut.

Selain Tak Efektif, Fogging Nyamuk Bisa Sebabkan Ini pada Alat Kelamin Anak Laki-laki
tribunjogja/harisusmayanti
Dinas Kesehatan melakukan fogging. (ilustrasi) 

TRIBUNJOGJA.COM, SEMARANG - Penggunaan fogging (pengasapan guna mematikan nyamuk penyebab DBD) ternyata bisa mempengaruhi pertumbuhan kelamin anak laki-laki.

Pengaruh yang dimaksud adalah ukuran alat kelamin yang tidak bisa maksimal.

"Mengusir nyamuk menggunakan obat nyamuk semprot atau fogging tidak efektif mematikan nyamuk. Itu hanya sekedar mengusir sementara. Sedangkan efek fogging sendiri bisa mengganggu pertumbuhan alat kelamin anak laki-laki jika digunakan dalam jangka waktu yang panjang," kata Prof.DR.Dr.Susilo Wibowo, M.S.Med.,Sp.And, selaku Direktur Utama RSND Undip, pada sambutan di acara Sarasehan dan Komitmen Lintas Sektoral bertajuk Waspada Demam Berdarah, di Laboratorium Rumah Sakit Nasional Diponegoro (RSND) Undip lantai 1, Selasa (18/7/2017).

Ia menghimbau agar para peserta yang datang untuk lebih memperhatikan kebersihan guna pencegahan DBD (Demam Berdarah Dengue).

Pasalnya, hingga sekarang masih belum ditemukan vaksin atau obat untuk menangani penyakit tersebut.

"Untuk penangkalnya, lebih baik menggunakan cara lama. Yakni pemakaian kelambu (tirai penutup tempat tidur). Dan pencegahan paling penting adalah waspada, serta tetap menjaga kebersihan lingkungan sekitar," himbaunya.

Sementara, menurut penjelasan Dr. Mulyono, SPa, selaku dokter spesialis anak-anak.

Mengatakan, efek dari penggunaan fogging sebenarnya ada beberapa macam.

Satu di antaranya adalah bisa mengganggu pertumbuhan alat kelamin pria dan pergerakan sperma.

"Kandungan senyawa malation sangat berbahaya. Pasalnya bisa mempengaruhi pergerakan sperma dan juga mengganggu pertumbuhan penis. Jika gangguan ini sudah dialami oleh anak, harus segera mendapatkan penanganan medis," jelas Mulyono.

Sementara itu, Mulyono juga memaparkan selama awal tahun 2017, tecatat sekitar 277 orang yang menderita DBD. Jumlah tersebut hanya pasien yang ditangani oleh pihak RSND Undip Semarang.

"Dalam jumlah 277 pasien yang terkena DBD, untuk saat ini alhamdulillah tidak ada yang sampai meninggal," tandasnya. (tribunjateng)

Editor: oda
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help