TribunJogja/

Ramai Diperbincangkan! Wisatawan Kaliadem Ditawari Naik Ojek atau Dianter Bayar Rp30 Ribu.

Dunia pariwisata di Sleman kembali tercoreng dengan adanya kasus dugaan pungutan liar yang ada di akses obyek wisata kawasan Kaliadem

Ramai Diperbincangkan! Wisatawan Kaliadem Ditawari Naik Ojek atau Dianter Bayar Rp30 Ribu.
YOUTUBE | Novian Muhammad Liniaji | Facebook ?ReNdy Hendra
Kolase Foto Wisata Kaliadem, Sleman 

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Dunia pariwisata di Sleman kembali tercoreng dengan adanya kasus dugaan pungutan liar (pungli) yang ada di akses obyek wisata. Kali ini akses menuju ke Kaliadem menjadi bahan pembicaraan setelah seorang wisatawan menjadi korban.

Peristiwa dugaan pungli tersebut diungkapkan oleh Rendy Hendra (24) warga Sinduadi, Mlati Sleman. Pada Minggu (16/7/2017) ia bersama keluarga bermaksud rekreasi di kawasan Kaliadem, Cangkringan.

Namun di tengah jalan menuju ke obyek wisata, ia dihentikan oleh beberapa orang yang diduga warga setempat.

"Rencananya saya ingin ke Rumah Mbah Maridjan. Setelah melalui Tempat Pemungutan Retribusi, di gerbang menuju ke atas dekat rumah Mbah Maridjan saya diberhentikan oleh beberapa orang berseragam. Mereka meminta saya untuk bayar lagi Rp 30 ribu. Padahal saya sudah membayar retribusi. Katanya lewat sini harus pakai pemandu," katanya kepada Tribun Jogja, Minggu sore.

Rendy yang telah beberapa kali mengunjungi Kaliadem pun kebingungan. Sebab, hal semacam ini baru pertama kali ia alami. Betapapun ia berusaha menawar, hal itu ditolak oleh kelompok orang tersebut.

"Saya ditawari dua pilihan, naik ojek atau naik motor sendiri namun diantar pemandu. tarifnya tetap Rp 30 ribu. Lha padahal sudah beberapa kali kesitu pagi-pagi, tidak ada hal semacam ini," imbuhnya.

Karena kebingungan, hal itupun ia ungkapkan di suatu group media sosial. Beragam respons pun datang dari warganet.

Beberapa menyatakan hal senada yang dialami Rendy. Postingan itu juga mendapat respons dari akun Habib Nur Syafi'i yang mengaku sebagai warga Cangkringan.

Menurut Habib, tarif Rp 30 ribu tersebut sebenarnya adalah tarif ojek yang tidak memaksa karena sebenarnya kendaraan wisatawan diharuskan parkir di dusun Ngrangkah.

"Kemungkinan jasa ojeknya tadi tidak menjelaskan detilnya. Jasa ojek ini sudah ada sejak 2011," katanya menanggapi postingan Rendy.

Petilasan rumah Mbah Maridjan menjadi salah satu obyek wisata yang selalu ramai dikunjungi wisatawan.
Petilasan rumah Mbah Maridjan menjadi salah satu obyek wisata yang selalu ramai dikunjungi wisatawan. (Tribun Jogja/Hamim Thohari)
Halaman
123
Penulis: toa
Editor: iwe
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help