TribunJogja/

Inilah Aktivitas Gunung Merapi Normal Sepekan Kemarin

Hal ini berdasarkan rilis yang dikeluarkan Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta.

Inilah Aktivitas Gunung Merapi Normal Sepekan Kemarin
tribunjogja/dwi nourma handito
Puncak Merapi dilihat dari jalur pendakian Sapuangin, Klaten, Jawa Tengah. 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Hening Wasisto

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Aktivitas gunung Merapi selama sepekan kemarin, terhitung dari tanggal 7-13 Juli 2017 baik itu cuaca, kegempaan maupun curah hujan dalam tingkat aktivitas normal.

Hal ini berdasarkan rilis yang dikeluarkan Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta pada Senin (17/7/2017) siang ini.

I Gusti Made Agung Nandaka selaku kepala BPPTKG Yogyakarta mengatakan, penilaian ini berdasarkan hasil pengamatan visual dan instrumental yang dilakukan oleh BPPTKG Yogya.

Dari hasil pengamatan, katanya, selama sepekan kemarin cuaca cerah terjadi pada pagi dan malam hari, sedang siang dan sore harinya mendung dan berkabut.

"Asap berwarna putih, tebal dengan tekanan gas lemah, tinggi maksimum 200 m tegak, teramati dari pos pengamatan Selo pada tanggal 9 Juli 2017 pukul 06:30 WIB," ujarnya.

Menurutnya kondisi morfologi gunung Merapi sejauh ini belum menunjukkan adanya perubahan yang signifikan.

Dalam minggu ini pun, tambahnya, kegempaan di gunung Merapi masih dalam kategori normal.

Tercatat 1 kali gempa MP, 13 kali gempa guguran (RF) dan 15 kali gempa tektonik (TT).

Sedang untuk curah hujan selama seminggu ini hanya terjadi di Pos Kaliurang. Tercatat jumlah curah hujan tertinggi, yakni 3 mm/jam selama 55 menit terjadi pada Senin (9/7/2017) lalu.

Meskipun demikian, tidak dilaporkan terjadi penambahan aliran di sungai-sungai yang berhulu di gunung Merapi.

"Berdasarkan hasil pengamatan visual dan instrumental itu maka aktivitas gunung Merapi dinyatakan dalam tingkat aktivitas normal," jelas Agung.

Mengingat kondisi morfologi puncak gunung Merapi saat ini rawan terjadi longsor, sehingga sangat berbahaya bagi keselamatan para pendaki.

Pihaknya menyarankan agar kegiatan pendakian gunung Merapi hanya sampai di pasar bubrah, kecuali untuk kepentingan penyelidikan dan penelitian yang berkaitan dengan mitigasi bencana. (*)

Penulis: sis
Editor: oda
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help