TribunJogja/

Bledug bledug bledug blaarr! Bledug Kuwu Masih Menderu

wisata alam Bledug Kuwu. Spot piknik geologis ini terletak di Desa Kuwu, Kecamatan Kradenan, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah

Bledug bledug bledug blaarr! Bledug Kuwu Masih Menderu
TRIBUN JOGJA/SETYA KRISNA SUMARGA
BLEDUG KUWU - Kawasan wisata alam Bledug Kuwu di Desa Kuwu, Kecamatan Kradenan, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, Jumat (14/7/2017). Letupan gelembung lumpur di musim kemarau ini rata-rata lebih kecil di banding ketika musim hujan. Namun produksi garam bleng dari hasil pengolahan lumpur sempuran Bledug Kuwu justru mencapai puncaknya. 

Mengapa ada garam? Ya, karena material yang disemburkan adalah endapan hasil erosi lapisan Kuwu, bekas lantai lautan sangat luas jutaan tahun lalu.

Sebenarnya spot semburan lumpur dan gas di Grobogan tak hanya Bledug Kuwu, tapi ada juga Kesongo di Kecamatan Sulursari, Buran Banjarejo di Desa Banjarejo. Kemudian Desa Jono, Tawangharjo, sumur Crewek dan Banjarsari, serta Ngaringan.

Secara kasat mata, di Bledug Kuwu ada sekurangnya tiga titik semburan, dengan titik di tengah yang disebut masyarakat setempat sebagai Jaka Tuwa, mengeluarkan letupan paling besar dan terus menerus.

BLEDUG KUWU - Kawasan wisata alam Bledug Kuwu di Desa Kuwu, Kecamatan Kradenan, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, Jumat (14/7/2017). Letupan gelembung lumpur di musim kemarau ini rata-rata lebih kecil di banding ketika musim hujan. Namun produksi garam bleng dari hasil pengolahan lumpur sempuran Bledug Kuwu justru mencapai puncaknya
BLEDUG KUWU - Kawasan wisata alam Bledug Kuwu di Desa Kuwu, Kecamatan Kradenan, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, Jumat (14/7/2017). Letupan gelembung lumpur di musim kemarau ini rata-rata lebih kecil di banding ketika musim hujan. Namun produksi garam bleng dari hasil pengolahan lumpur sempuran Bledug Kuwu justru mencapai puncaknya (TRIBUN JOGJA/SETYA KRISNA SUMARGA)

Garam Bledug Kuwu terkenal sejak dulu kala. Di zaman keemasan Kasunanan Surakarta, garam bleng dari Kuwu jadi konsumsi pelengkap masyarakat Mataram. Saat ini produksi garam Kuwu masih berlangsung, dilakukan turun temurun oleh warga sekitar.

Proses produksi garam dilakukan di sisi timur luat pusat semburan, masih di kawasan yang sama yang tanahnya sudah memadat. Air yang disuling jadi garam adalah hasil penyaringan dari lumpur air yang menyembur dari dalam perut bumi.

Setelah sekurangnya dua kali diendapkan di penampungan, air mengandung garam dikeringkan di bilah-bilah bambu.

"Jika panas terik seperti sekarang, bisa seminggu dua minggu panen," kata Sumiyarti (55), petani garam Kuwu ditemui di lokasi produksi akhir pekan lalu.

"Ini baru saja panen, langsung habis diborong bakul Mas," imbuhnya. Sumiyarti dan tiga temannya memang baru saja mengisi bilah-bilah bambu dengan air bening, dan menjemurnya di bawah terik matahari. Dua minggu lagi ia baru bisa memanen.

BLEDUG KUWU - Kawasan wisata alam Bledug Kuwu di Desa Kuwu, Kecamatan Kradenan, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, Jumat (14/7/2017). Letupan gelembung lumpur di musim kemarau ini rata-rata lebih kecil di banding ketika musim hujan. Namun produksi garam bleng dari hasil pengolahan lumpur sempuran Bledug Kuwu justru mencapai puncaknya
BLEDUG KUWU - Kawasan wisata alam Bledug Kuwu di Desa Kuwu, Kecamatan Kradenan, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, Jumat (14/7/2017). Letupan gelembung lumpur di musim kemarau ini rata-rata lebih kecil di banding ketika musim hujan. Namun produksi garam bleng dari hasil pengolahan lumpur sempuran Bledug Kuwu justru mencapai puncaknya (TRIBUN JOGJA/SETYA KRISNA SUMARGA)

Daya tarik Bledug Kuwu memang ada pada fenomena letupan gelembung lumpur yang seolah tiada habis material dan energinya. Kadang gelembungnya besar dan memuncrat tinggi, kadang sedang dan kecil-kecil saja.

Di musim kemarau seperti sekarang ini, pengunjung bisa mendekati pusat semburan dalam jarak antara 50 hingga 100 meter saja. Namun jika musim hujan, hampir seluruh areal Bledug Kuwu bisa berubah jadi kolam lumpur raksasa yang sangat labil.

Halaman
123
Penulis: xna
Editor: iwe
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help