TribunJogja/
Home »

Jawa

Otak Calo CPNS di Klaten Masih Dikejar

Dari keterangan yang dihimpun Tribun Jogja, dua ASN yang akan diperiksa adalah SDY, oknum kepala sekolah dan WT, oknum ASN dari unsur pendidik.

Otak Calo CPNS di Klaten Masih Dikejar
TRIBUNJOGJA.COM | OBED DONI ARDIYANTO
Ribuan honorer K2 Klaten mengantri untuk dilayani petugas dari BKD Klaten dalam pembagian kartu tes CPNS di GOR Gelar Sena Klaten. (ilustrasi) 

TRIBUNJOGJA.COM, KLATEN – Badan Kepegawaian Pendidikan dan Pelatihan Daerah (BKPPD) Klaten masih mengejar otak jaringan calo CPNS kategori dua (K2) yang beraksi di Klaten.

Pasal hingga saat ini dari pemeriksaan yang dilakukan baru mengarah pada perantara.

Kepala Bidang Umum dan Kepegawaian BKPPD Klaten, Doddhy Hermanu Chaniago mengatakan pihaknya akan melanjutkan pemeriksaan kasus ini.

Adapun agenda pemeriksaan yang akan dilakukan pekan depan untuk mendengarkan keterangan dari oknum Aparatur Sipil Negara (ASN) Kabupaten Klaten yang diduga terlibat dalam jaringan ini.

“Ada dua ASN yang rencananya akan diperiksa, mereka ini diduga ada kaitannya dengan aksi jaringan calo CPNS yang beraksi di Klaten,” ungkapnya, Minggu (16/7/2017).

Dari keterangan yang dihimpun Tribun Jogja, dua ASN yang akan diperiksa adalah SDY, oknum kepala sekolah dan WT, oknum ASN dari unsur  pendidik.

Keduanya diduga berperan mengajak honorer K2 yang tidak lolos seleksi CPNS pada 2014 silam untuk mengumpulkan sejumlah uang dengan janji akan diberikan Nomor Induk Pegawai (NIP).

Menurut Doddhy kedua oknum ASN tersebut bukanlah pelaku utama calo CPNS yang beraksi di Klaten. Diduga masih ada orang lain yang  menjalankan jaringan tersebut dan bukan hanya beraksi di Klaten.

“Ada indikasi sejumlah oknum ASN dan non-ASN yang mengerakan jaringan ini. Dari keterangan korban juga diketahui ada seorang oknum ASN yang  mengaku sebagai pegawai BKN (Badan Kepegawaian Nasional), tapi BKN mana kami belum mengetahuinya, apakah regional atau pusat,” ujarnya.

Aksi jaringan calo tersebut diketahui setelah adanya laporan salah satu korban, HT kepada BKPPD Klaten. HT merupakan seorang tenaga pendidik honorer K2 yang tidak lulus dalam seleksi CPNS pada 2014 silam.

Setelah mendapatkan hasil seleksi tersebut, HT mendapatkan penawaran dari SDY untuk  mengikuti program dengan membayarkan sejumlah uang untuk mendapatkan NIP.

Sayangnya setelah disepakati dan membayarkan uang yang diminta, janji manis berupa NIP tidak segera didapatkan. (*)

Penulis: ang
Editor: oda
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help