TribunJogja/
Home »

DIY

» Bantul

Puluhan Orang Larung Sabda Raja Bawono ke Laut Parangkusumo

mereka mendukung penuh Sri Sultan Hamengkubuwono yang kembali mantap menggunakan nama asli, lengkap dengan gelar yang diwariskan para leluhur.

Puluhan Orang Larung Sabda Raja Bawono ke Laut Parangkusumo
tribunjogja/hening wasisto
Paguyuban warga Yogya Istimewa saat menggelar doa bersama dan larung sabda raja Bawono di Pantai Parangkusumo Bantul, Minggu (16/7/2017) siang. 

TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Puluhan orang yang tergabung dalam Paguyuban warga Yogya Istimewa menggelar do'a bersama di komplek Cepuri Pantai Parangkusumo Bantul, Minggu (16/7/2017) siang.

Srihadi selaku koordinator lapangan mengungkapkan, doa bersama ini sebagai bentuk dukungan terhadap Sri Sultan Hamengkubuwono X sebagai Gubernur Daerah istimewa Yogyakarta periode ke-2 yang berlandaskan Undang-Undang Keistimewaan DIY.

"Ini sebagai bentuk cinta kami terhadap paugeran, cinta kami terhadap adat, serta budaya. Karena dengan adanya paugeran, budaya, adatnya yang baik menjadikan Yogya Istimewa," ujarnya Sri.

Sri melanjutkan, mereka mendukung penuh Sri Sultan Hamengkubuwono yang kembali mantap menggunakan nama asli, lengkap dengan gelar yang diwariskan para leluhur.

Dari penuturan Sri, gelar Hamengkubawono yang sempat menimbulkan polemik telah ditanggalkan Sultan.

"Informasi yang kami peroleh, beliau telah menyerahkan syarat-syarat nama dan gelar Kasultanan asli sesuai paugeran adat sebagai syarat menjadi Gubernur kepada DPRD DIY. Maka, kami (rakyat) menilai beliau telah membatalkan Sabda Raja ataupun dhawuh raja yang beberapa waktu lalu sempat menjadi polemik, karena telah memakai kembali nama, dan gelar sesuai Pangeran Adat," sambungnya.

Untuk itu, lanjutnya, sebelas aktifitis yang mempersoalkan yudisial review UU Keistimewaan pasal ke 18 ayat 1 huruf M soal gender diminta untuk tidak mempengaruhi keputusan Sultan.

"11 aktivis tersebut kami mohon pergi, jangan pengaruhi Sri Sultan yang telah mantap menggunakan gelar Hamengkubuwono," jelas Sri.

Selain menggelar doa bersama untuk Sri Sultan HB X, massa juga melarung Sabda Raja Bawono yang dinilai cacat hukum ke lautan lepas Pantai Parangkusumo, yang diarak beberapa orang dengan berkalung janur.

"Kami menilai nama Bawono telah gugur secara hukum karena tidak sesuai paugeran," terang Sri.

"Melarung Sabda Raja Bawono ke laut selatan ini pertanda buang sial, buang sifat kejahatan, kemungkaran, dan kemunafikan," tegasnya.(sis)

Penulis: sis
Editor: oda
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help