TribunJogja/

Warga Gunungkidul Harus Jalan Kaki 1,5 Km Demi Beberapa Jeriken Air dari Telaga

Warga Gunungkidul yang tinggal di wilayah terdampak kekeringan pun masih berjuang mendapatkan air demi untuk bertahan hidup.

Warga Gunungkidul Harus Jalan Kaki 1,5 Km Demi Beberapa Jeriken Air dari Telaga
Tribun Jogja/Rendika F
Warga desa Karangawen, Kecamatan Girisubo meminggul air setelah berjalan kaki sejauh 1,5 km hingga 3 km untuk mengambil sisa air telaga yang mulai mengering di Telaga karang wetan, Rabu (12/7/2017). 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Rendika Ferri K

TRIBUNJOGJA.COM, GUNUNGKIDUL - Musim kemarau yang melanda berdampak langkanya sumber air di Gunungkidul.

Warga Gunungkidul yang tinggal di wilayah terdampak kekeringan pun masih berjuang mendapatkan air demi untuk bertahan hidup.

Seperti yang dilakukan oleh warga desa Karangawen, Kecamatan Girisubo yang harus berjalan kaki sejauh 1,5 km hingga 3 km untuk mengambil sisa air telaga yang mulai mengering di Telaga karang wetan.

Tak hanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja, warga mengambil air untuk memenuhi kebutuhan minum ternak.

Dengan menggunakan jerigen berkapasitas sekitar 25 liter air, mereka memikul jeriken tersebut ke rumah atau kandang ternak yang terletak di kawasan perbukitan.

"Dalam sehari kami bolak-balik sampai empat kali, untuk mengambil air dari telaga, untuk keperluan minum, mandi, dan memberi minum ternak kami," ujar Parsilan (53), warga desa Karangawen, Kecamatan Girisubo, Gunungkidul.

Sudah sejak dua bulan terakhir ini, atau sebelum bulan puasa, warga desa Karangawen, Kecamatan Girisubo, mengambil air dari telaga tersebut, untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari dan juga minum ternak.

Jika masih kekurangan warga pun harus membeli dari tangki dengan harga Rp 150.000 per tangki.

Jumlah itu hanya cukup untuk kebutuhan selama seminggu dan dua minggu pemakaian.

Halaman
12
Penulis: rfk
Editor: dik
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help