TribunJogja/

Rizka Tergerak Hatinya Berhijab

Baginya, hati mungkin tidak akan bisa terhijab dengan baik sampai kapanpun, karena setiap orang bukanlah pribadi yang sempurna.

Rizka Tergerak Hatinya Berhijab
tribunjogja/bramasto adhy
Syahadah Rizka Anefi 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Gaya Lufityanti

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Hati merupakan bagian dari tubuh manusia yang mudah berganti-ganti, sebab Tuhan-lah maha pembolak balik hati. Hati pulalah yang mendorong Syahadah Rizka Anefi memutuskan menutup aurat.

 Rizka, sapaan akrabnya, awalnya sempat memiliki keraguan untuk berhijab karena berniat menghijabi hatinya dulu.

Namun ia menyadari bahwa dirinya tidak akan bisa merasa siap berhijab jika menunggu hati hingga sebening kristal. 

Baginya, hati mungkin tidak akan bisa terhijab dengan baik sampai kapanpun, karena setiap orang bukanlah pribadi yang sempurna.

Bahkan menurutnya, hijab diwajibkan bagi muslimah bukanlah untuk mengekang, melainkan untuk melindungi wanita agar lebih dihargai.

"Dengan menggunakan hijab secara tidak langsung saya merasa seakan diberi peringatan agar lebih hati-hati dalam menjaga sikap. Kain yang menjulur hingga ke dada itu adalah bukti bahwa saya seorang yang sedang berproses jadi manusia yang lebih baik dari luar dan dalam," kata finalis Puteri Muslimah Indonesia tahun 2016 ini.

Keputusannya mengenakan jilbab sejak tahun 2011 juga diilhami dari sang ayah yang merupakan seorang ustadz dan adik yang lebih dulu memakan kerudung.

Kemudian hadist Tirmidzi dan Hakim yang berbunyi 'Selangkah anak perempuan keluar dari rumah tanpa menutup aurat, maka selangkah juga ayahnya itu hampir ke neraka' lah yang kemudian menggerakkan hatinya.

"Hadist itu membuat hati saya tergerak akrena saya tidak mau ayag saya menanggung dosa saya di akhirat nanti," imbuh dara berpostur tinggi badan 171 cm dan berat badan 55 kg ini.

Pernah sekali Rizka disarankan rekannya untuk melepas hijabnya saat menjalani program pertukaran pelajar di Vietnam agar menghindari pandangan dan cibiran negatif dari penduduk Ho Chi Minh City.

Dengan penuh risiko, sulung dari empat bersaudara ini memberanikan menolak saran tersebut.

"Sungguh sangat disayangkan jika saja saya sampai melepas rahmat Allah yang ditaruh dalam genggamannya hanya demi kenyamanan dunia dan takut akan cibiran sesama makhluk Allah. Sesampainya di Vietnam, benar saja, meskipun beberapa orang memandang saya dengan sinis namun sebagian lagi memudahkan saya dalam mencari makanan halal karena hijab yang saya pakai," kenang dara kelahiran 2 April 1993 ini.  

Berkerudung diakuinya membuat dirinya lebih nyaman dalam bergaul. Apalagi Jurusan Elektronika yang sempat diambilnya didominasi oleh kaum adam.

"Kala itu saya merasa lebih nyaman berhijab karena merasa 'aman' dari pandangan laki-laki di situ," tambah model muslimah kelahiran Magetan, Jawa Timur ini. (*)

Penulis: gya
Editor: oda
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help