TribunJogja/

Ramadan 1438 H

Masjid Perak Kotagede, Satu Masjid Sarat Sejarah di Sudut Yogyakarta

Masjid Perak saat ini berada di Jalan Mondorakan Blok KG No 11, Kotagede, Yogyakarta.

Masjid Perak Kotagede, Satu Masjid Sarat Sejarah di Sudut Yogyakarta
Tribun Jogja/ Tris Jumali
Masjid Perak Kotagede 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Masjid Perak Kotagede, satu masjid bersejarah yang didirikan oleh tiga tokoh Muhammadiyah, yaitu H Mashudi, H Mudzakir, dan KH Amir sebelum Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya.

Masjid Perak saat ini berada di Jalan Mondorakan Blok KG No 11, Kotagede, Yogyakarta.

"Masjid ini dibangun pada tahun 1937, karena dulunya di Masjid Kotagede Mataram dirasa sudah tidak bisa menampung jemaah yang semakin banyak, kemudian tercetus ide dari tokoh-tokoh Muhammadiyah untuk mendirikan masjid, kebetulan tanah wakafnya disitu," ujar Jindar Fathoni (50), Ketua Takmir Masjid Perak, Senin (12/6/2017).

Jindar menjelaskan, berdirinya Masjid Perak ini juga dipengaruhi oleh faktor sedikit terbatasnya kegiatan-kegiatan umat Islam di Masjid Mataram karena harus meminta izin di Keraton terlebih dahulu.

"Dulu kan Masjid Mataram itu Masjid Keraton, Keraton ada dua, Keraton Solo dan Keraton Yogyakarta, jadi kalau ada kegiatan birokrasinya sulit, harus izin kesana," ucap Jindar.

Selain itu ia mengatakan Masjid Mataram dulunya pun masih terikat dengan tata cara Keraton, sehingga ibadah yang dilakukan masih sangat tradisional.

Ketiga hal tersebutlah membuat para tokoh Muhammadiyah pada masa itu membangun Masjid Perak.

Masjid ini merupakan masjid pertama yang berdiri setelah Masjid Kotagede Mataram.

Nama Masjid Perak bukanlah dikarenakan dulunya di Kotagede banyak pengusaha perak yang sukses seperti saat ini, namun nama perak diambil dari bahasa arab yaitu "Firaq" yang berarti memisahkan atau membedakan.

"Perak itu dari kata firaq, yang berarti memisahkan, membedakan juga bisa, sebenarnya bukan karena berdiri di kota perak namanya menjadi Masjid Perak, kemudian memang dalam perkembangannya Kotagede banyak pengusaha perak, setelah masjid ini ada kemudian perak maju," ujar Jindar.

Setelah dibangun selama tiga tahun, barulah Masjid Perak dapat digunakan oleh para jemaah pada tahun 1940 di atas tanah yang luasnya sekitar 840 m persegi, dan dapat menampung sekitar 400 jemaah.

Namun karena gempa pada tahun 2006, Masjid Perak mengalami kerusakan yang cukup parah, dinding-dinding masjid retak.

"Dari pengurus masjid memanggil ahli bangunan untuk melihat kondisi masjid, ternyata harus dirobohkan. tahun 2009 itu dirobohkan karena retak kalau dibiarkan tidak bisa, apalagi bangunan lama belum menggunakan beton jadi untuk memperbaiki harus dirobohkan terlebih dahulu, tapi mimbar dan cagak  (tiang) dipertahankan," ucap Jindar. (*)

Penulis: trs
Editor: ton
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help