TribunJogja/

Para Janda di Kulonprogo Curhat kepada Hasto

Tujuan organisasi tersebut ditegaskannya adalah membantu sesama janda. Terutama dalam pemberdayaan dan pengembangan diri.

Para Janda di Kulonprogo Curhat kepada Hasto
tribunjogja/khaerurreza
Bupati Kulonprogo Hasto Wardoyo 

TRIBUNJOGJA.COM, KULONPROGO – Perempuan banyak merasa cenderung sulit bangkit kembali setelah resmi menyandang status janda akibat cerai maupun ditinggal mati suaminya.

Mereka pun akhirnya kian terpuruk dalam ketidakberdayaan secara ekonomi maupun sosial.

Hal ini disampaikan para anggota Persaudaraan Janda Janda Indonesia (PJJI) Armalah Yogyakarta saat menghadiri agenda open house aspirasi warga Kamis Pagi di Rumah Dinas Bupati Kulonprogo, Kamis (8/6/2017).

Mereka pun curhat (bercurahan hati) kepada Bupati Hasto Wardoyo dan Wakil Bupati Sutedjo dalam kesempatan itu.

Perwakilan PJJI Armalah Yogyakarta, Ken Utami mengatakan pihaknya memohon izin kepada Pemkab Kulonprogo terkait rencana membuka cabang di Kulonprogo.

Tujuan organisasi tersebut ditegaskannya adalah membantu sesama janda. Terutama dalam pemberdayaan dan pengembangan diri setelah tak lagi bersanding suami.

Menyandang status janda bagi sebagian perempuan telah menjadi beban hidup tersendiri.

“Karena biasanya (janda) ada yang malu keluar. Ada pula yang ingat suami terus,” kata Ken Utami.

Hasto Wardoyo menyambut baik rencana dibukanya cabang organisasi janda tersebut. Apalagi, Kulonprogo banyak sekali orangtua jompo, janda tua, miskin, dan dhuafa.

Bahkan, jumlah janda disebutnya lebih banyak ketimbang duda lantaran para laki-laki lebih banyak berkecimpung dalam sektor pekerjaan yang lebih beresiko.

“Angka harapan hidup perempuan lebih tinggi daripada laki-laki,” kata Hasto.

Ia berharap AJJI bisa ikut mengurus dan memikirkan warga yang sudah tua serta fakir miskin. Organisasi juga bisa menghubungkan donatur atau dermawan dengan para janda tua yang membutuhkan.

Hasto memperkirakan jumlah janda di Kulonprogo sekitar 3% jumlah penduduk atau sekitar 12 ribu jiwa dan sebagian besar sulit untuk empowering atau pemberdayaan.

“Nah, saya berharap organisasi ini nanti bisa memberikan living support, menghubungkan donatur dengan para janda, tanpa harus melalui pemerintah,” katanya. (*) 

Penulis: ing
Editor: oda
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help