TribunJogja/

KOLOM 52

Generasi X, Digital Native dan Perubahan Peradaban

Generasi X seperti saya ini, dan generasi sebelumnya, ketika menjalani dekade ini merupakan generasi Digital Immigrant

Generasi X, Digital Native dan Perubahan Peradaban
Tribun Jogja/Bramastyo Adhi
Ilustrasi 

GENERASI X, menurut William Strauss dan Neil Howe yang merilis buku kedua mereka, 13th Gen, menjelaskan bahwa generasi X adalah generasi yang lahir antara tahun 1961 sampai tahun 1981. Lantas, apakah teori generasi itu? Menurut sosiolog asal Hungaria, Karl Mannheim, adalah sebuah kelompok individu dengan rentang usia yang sama dan bersama-sama pula mengalami peristiwa bersejarah dalam waktu yang bersamaan.

Saat ini teori generasi ada beberapa pendapat. Namun secara garis besar dapat diklasifikasikan menjadi: Generasi Mature (generasi yang lahir antara tahun 1900-1945); Generasi Baby Boomers (1946-1964); Generasi X yaitu mereka yang lahir antara tahun 1965-1980; Generasi Y (1981-1994); Generasi Z (1995-2010). Ada juga yang mengatakan generasi X lahir antara tahun 1965-1976 dan generasi Z lahir antara tahun 1995-2014.

Generasi X dengan ciri-ciri anti kemapanan, doyan belanja, ngedugem berat. Pada rentang tahun kelahiran mereka ini muncul kehidupan seperti hippies, ganja, mariyuana, nudis sehingga sering disebut miring sebagai generasi apatis, sinis, gedombrongan. Filosofi hidup mereka "Kerja Untuk Hidup" bukan Hidup untuk bekerja.

Jika bepergian selalu mencari sensasi alias tantangan. Ciri berpakaiannya leher dijerat syal, sepatu keds dan buku saku. Perangai mereka tidak sabaran. Mereka belajar dengan duduk manis di meja belajar, suasananya sunyi dan tenang paling banter sambil mendengarkan radio atau musik dari tape recorder, walkman atau CD Audio. Generasi X masih mau membeli koran dan membacanya, masih mau menunggu acara TV sebelum acara favoritnya ditayangkan.

Sementara itu generasi Y dan Z mereka sebagian besar merupakan generasi Digital Native. Generasi Digital Native ini adalah generasi yang sejak kecil, usia dibawah lima tahun sudah mengenal gadget, komputer, smartphone sebagai bagian dari kehidupan mereka. Mereka belajar bersama Sesame Street, Dora, Spong Bob dan sebagainya. Generasi Y dan Z tidak mau membaca koran dan tidak suka menuggu acara televisi tayangan demi tayangan kecuali melihat siaran langsung sepak bola dan siaran langsung berita "breaking news". Cara hidup generasi Y dan Z berbeda dengan generasi X.

Perubahan Jaman

Generasi X seperti saya ini, dan generasi sebelumnya, ketika menjalani dekade ini merupakan generasi Digital Immigrant. Generasi ini hidup saat terjadi perubahan peradaban dari berkirim surat dan telegram menjadi berkirim e-mail (surat elektronik melalui internet), sms (short message service) dan chating (mengobrol di internet menggunakan apliasi tertentu). Koran, tabloid dan majalah beralih ke web, blog dan portal. Telepon rumah beralih ke telepon selular.

Mendengarkan musik dari kaset (tape recorder) beralih ke compact disk, mp3 dan sekarang sudah ada Spotify, JOOX dan Sound Cloud. Melihat video dulu menggunakan videocassette recorder (VCR) dan dvd player, kini sudah melihat video dengan file data (mpeg, mp4, avi dll) ada juga video blog atau video log yaitu Youtube, Vidio dan Vimeo (Vimeo sampai saat ini masih diblokir kominfo).

Perkembangan jaman ini juga membawa dampak pada perekonomian, perniagaan dan jasa. Demo-demo yang menentang keberadaan taxi online seperti Uber, Grab, GoCar dan Go-Jek adalah contoh nyata ketidaksiapan generasi Digital Immigrant dalam menghadapi perubahan peradaban. Bahkan ada salah satu teman saya yang dengan gembira menceritakan "Di sebuah kota di pulau Jawa, pemerintah daerahnya melarang keberadaan taxi online dan kota itu tidak ada keributan." Apa yang menjadi polemik saat ini akan terus berkembang karena kemajuan teknologi tidak akan bisa dibendung.

Besok, lusa akan muncul aplikasi online lewat perangkat android, windows phone atau iPhone yang lebih canggih lagi. Pengiriman paket dengan menggunakan drone mulai diuji-cobakan di beberapa negara maju. Rumah makan beberapa tahun lagi akan lebih banyak menggunakan layanan delivery. Di Amerika Serikat sudah ada surat kabar cetak yang menutup usahanya dan beralih ke media online atau internet. Selain lebih gogreen, biaya online lebih murah dari biaya produksi cetak, juga karena kayu sebagai bahan baku kertas semakin langka.

Halaman
12
Editor: mon
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help