TribunJogja/
Home »

Jawa

159 Permohonan Paspor Ditolak Selama Januari-Mei 2017, Ini Alasannya

Sebagian besar diantara mereka, ke luar negeri bertujuan untuk bekerja, tapi dengan dalih berwisata, umroh, atau mengunjungi keluarganya.

159 Permohonan Paspor Ditolak Selama Januari-Mei 2017, Ini Alasannya
panduanwisata.id
Paspor_ghj 

TRIBUNJOGJA.COM, MAGELANG - Adanya ketidaksesuaian data antara tujuan pengajuan paspor dan kenyataan dari niat pemohon, membuat sedikitnya 159 permohonan selama Januari hingga Mei 2017 ini, ditolak oleh Kantor Imigrasi Kelas II Wonosobo.

Sebagian besar diantara mereka, ke luar negeri bertujuan untuk bekerja, tapi dengan dalih berwisata, umroh, atau mengunjungi keluarganya.

Kepala Kantor Imigrasi Kelas II Wonosobo, Soeryo Tarto Kisdoyo mengatakan, sejauh ini cukup banyak dijumpai warga yang ingin menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI), namun enggan melewati prosedur yang berlaku.

Lanjutnya, mereka memilih membuat paspor dengan alasan-alasan lain, supaya prosesnya lebih mudah. Namun, langkah seperti tidak bisa diloloskan oleh pihaknya.

"Tujuan yang disodorkan bermacam-macam, padahal mereka mau ke luar negeri untuk bekerja. Kami tidak terbitkan paspor juga demi kebaikan mereka juga, karena kalau sampai ketahuan setelah tiba di luar negeri, mereka bisa mendapat hukuman. Tentu, hal seperti ini akan terus kami waspadai," cetusnya.

Namun, ia tidak sepenuhnya melimpahkan kesalahan pada para pemohon tersebut, karena mayoritas hanya menjadi korban penyalur, atau biro TKI abal-abal, yang kini menjamur di berbagai daerah.

Karena itu, pihaknya tak ingin kecolongan sedikitpun, sekaligus memberi pertolongan bagi pemohon, yang sebagian sama sekali tidak memahami ketentuan pengajuan paspor.

"Domisili pemohon tersebar di wilayah eks-Karesidenan Kedu. Mereka ingin bekerja di luar negeri, dengan tujuan memperbaiki kondisi ekonomi, tapi malah diberi opsi lewat jalur ilegal. Banyak diantara mereka menjadi korban, kasihan kalau sampai ketahuan di luar negeri, lalu dideportasi," tandasnya.

Soeryo menjelaskan, pihaknya mengetahui ketidaksesuaian antara tujuan dan niat sebenarnya dari pemohon, setelah melewati proses wawancara, yang dilakukan secara mendalam.

Berbagai macam jawaban yang mencurigakan, dijumpai olehnya dalam sesi tersebut, antara lain mengaku akan mengunjungi keluarga, tapu tidak bisa menunjukkan alamat terangnya.

"Kemudian ada yang mengajukan paspor wisata, tapi tidak paham objek atau lokasi mana saja yang hendak dikunjungi selama di luar negeri nanti, lalu tidak punya tiket pulang dan pergi. Jelas mencurigakan, karena itu, kami tolak permohonannya," ujarnya.

Sementara itu, Kasubsi Lalu Lintas Keimigrasian, Washono menambahkan, dengan banyak dijumpai temuan-temuan semacam itu, Kantor Imigrasi Kelas II Wonosobo kini mulai memperketat penerbitan paspor untuk warga yang akan bepergian ke luar negeri, sekaligus membatasi mencegah adanya TKI non presedural, yang kini ditengarai cukup banyak tersebar.

"Karena itu, kami harus berhati-hati dalam menerbitkan paspor, tidak bisa asal meloloskan. Sebab, di luar negeri, kalau ada TKI non prosedural yang ketahuan, akan diperiksa lebih lanjut, termasuk soal kantor imigrasi mana yang menerbitkannya dan siapa yang membantu pembuatan paspor tersebut," pungkasnya. (*)

Penulis: aka
Editor: oda
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help