TribunJogja/

Diduga Jadi Korban Kekerasan Senior, Ini Hasil Autopsi Taruna Akpol yang Meninggal di Asrama

Pada Kamis malam, jenazah korban diterbangkan ke Jakarta dari Bandara Internasional Ahmad Yani Semarang.

Diduga Jadi Korban Kekerasan Senior, Ini Hasil Autopsi Taruna Akpol yang Meninggal di Asrama
TRIBUN JATENG/DANIEL ARI PURNOMO
Kapolda Jateng Irjen Condro Kirono di Mapolda, Kamis (18/5/2017) sore, menyampaikan kabar mengenai meninggalnya taruna Akpol Brigdatar Mohammad Adam 

TRIBUNJOGJA.COM - Taruna Akademi Kepolisian (Akpol) Semarang, Brigadir Dua Taruna (Brigdatar) Mohammad Adam, meninggal di RS Akpol, Kamis (18/5/2017) pagi.

Korban diduga menjadi korban penganiayaan oleh seniornya. Hasil visum menunjukkan, terdapat lebam di dada taruna tingkat dua itu.

"Korban meninggal saat tiba di Rumah Sakit Akpol. Saat ini masih proses autopsi di RS Bhayangkara Semarang," kata Kapolda Jateng, Irjen Pol Condro Kirono, dalam konferensi pers di Mapolda Jateng, Kamis sore.

Condro menduga, taruna kelahiran Padang 20 Juni 1996 itu meninggal usai menjadi korban pemukulan. Saat ini, polisi masih memeriksa 21 taruna berkait dengan insiden tersebut. "Hasilnya akan kami sampaikan besok (Jumat hari ini--Red)," kata Condro.

Dia menuturkan, korban sempat menghadiri apel, pada Rabu (17/5) malam. "Seusai apel, kami belum tahu ada kegiatan lain atau tidak. Itu yang masih dalami," katanya.

Brigdatar Adam masuk dalam satuan enam, pengiriman dari Polda Maluku. Alumnus SMA Negeri 29 Jakarta itu tercatat sebagai warga Jalan Penghulu, Cipulir, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Adam merupakan putra pasangan Asiandri Umar dan Adria Nova.

Kabid Humas Polda Jateng, Kombes Pol Djarod Padakova menambahkan, ada dua barang bukti yang ditemukan di lokasi kejadian, yakni berupa kopel atau sabuk dan tongkat plastik sepanjang 20 sentimeter. Kedua benda itu ditemukan di lokasi kejadian, yaitu flat A, yang merupakan ruangan kosong.

"Di flat A, ruangan kosong yang disebut gudang, berkumpulnya di situ. Kopel milik siapa belum tahu," kata Djarod.

Dia menambahkan, peristiwa itu terjadi ketika 22 taruna tingkat II yang tergabung dalam Korps HIT (Himpunan Indonesia Timur) diminta menghadap para seniornya. Alasan pemanggilan karena korban dan beberapa rekannya dianggap melakukan kesalahan.

"Korban merasa kesakitan dan kejang, kemudian Taruna Tingkat III berupaya menyadarkan dengan cara CPR (cardiopulmonary resuscitation atau resusitasi jantung paru--Red) dan membasahi mukanya dengan air," katanya.

Halaman
12
Editor: ton
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help