TribunJogja/
Home »

DIY

» Sleman

Sleman Kini Miliki Logo dan Tagline

Logo mengambil simbol candi prambanan dan gunung merapi akan bersanding dengan tagline "The Living Culture, part of Jogja."

Sleman Kini Miliki Logo dan Tagline
tribunjogja/rento ari
Kepala Dinas Pariwisata Sleman, Sudarningsih; Ketua Tim Penyusun Branding Sleman, Ikke Janati; dan Kepala Bagian Humas Pemkab Sleman, Sri Winarti menunjukkan dua desain logo branding Sleman di humas Pemkab Sleman, Kamis (18/5/2017). 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Rento Ari Nugroho

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Sebagai bagian dari upaya mengangkat berbagai potensi yang ada di wilayahnya, Pemerintah Kabupaten Sleman memperkenalkan logo dan brandingnya.

Logo mengambil simbol candi prambanan dan gunung merapi akan bersanding dengan tagline "The Living Culture, part of Jogja."

Kepala Dinas Pariwisata Sleman, Sudarningsih mengatakan, logo ini mulai diperkenalkan pada upacara peringatan hari jadi Sleman ke-101 pada Senin (15/5/2017) lalu.

Namun secara resmi akan diperkenalkan Bupati pada Resepsi Hari Jadi Kamis (18/5/2017) malam.

"Ada proses panjang dalam penyusunan branding dan logo ini, mulai dari beberapa kali Focus Group Discussion (FGD) dengan mengundang stakeholder pariwisata, hingga penentuan tagline ini," kata Sudarningsih dalam jumpa pers di Humas Pemkab Sleman, Kamis pagi.

Sudarningsih mengungkapkan, logo branding Sleman ini pada awalnya direncanakan untuk promosi wisata di Kabupaten Sleman. Namun atas usulan dari Bupati, logo dan branding ini akan digunakan pula di seluruh dinas untuk mengangkat potensi Sleman.

"Logonya sendiri mengambil dua ikon Sleman yang sudah terkenal di kancah nasional maupun internasional yakni Candi Prambanan dan Gunung Merapi. Sementara untuk pemilihan huruf untuk penulisan tagline ini, karena Sleman merupakan bagian dari DIY maka jenis huruf yang dipilih sama dengan yang dipakai DIY," katanya.

Mengenai pemilihan kalimat "The Living Culture, Part of Jogja" merupakan hasil voting dari peserta FGD.

Waktu itu ada beberapa kalimat yang ditawarkan misalnya saja The Living Culture, Unique Living Culture, dan Inspirinc Culture and Nature. Sekitar 60 persen peserta FGD memilih tagline The Living Culture.

"Banyak yang bertanya kenapa menggunakan bahasa Inggris. Ini ada pertimbangan tentunya. Sebagai tagline, tentunya bahasa Inggris dipilih agar bisa ditangkap dan dipahami oleh semua kalangan terutama turis mancanegara," katanya. (*)

Penulis: toa
Editor: oda
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help