TribunJogja/

Indera Penciuman Jadi Pendeteksi Seseorang Cepat Meninggal atau Tidak, Bagaimana Bisa?

Kemungkinan untuk mendiagnosis gejala Alzheimer adalah dengan menguji seberapa dekat seseorang dapat mencium bau kacang.

Indera Penciuman Jadi Pendeteksi Seseorang Cepat Meninggal atau Tidak, Bagaimana Bisa?
meetdoctor.com
Indera penciuman. 

Laporan Reporter Magang Tribun Jogja, Agil Bagus Syahputra

TRIBUNJOGJA.COM – Para ilmuwan asal Universitas Stockholm di Swedia melakukan sebuah riset yang melibatkan 1,700 orang dengan kisaran umur 40 sampai 90 selama sepuluh tahun.

Di awal studi mereka meminta untuk mengidentifikasikan 13 aroma yang berbeda.

Para peneliti tersebut menemukan bahwa kemungkinan seseorang meninggal dikaitkan dengan seberapa bagus nilai mereka pada tes yang dilakukan.

Selanjutnya, setiap jawaban yang salah meningkatkan resiko kematian hampir 10% pada periode penelitian.

Hasilnya berkontribusi terhadap bukti yang berkembang bahwa pengujian melalui bau memberikan sebuah pengetahuan yang berharga terhadap kesehatan otak seiring bertambahnya usia. Sama halnya dengan bagian belakang mata.

Bagaimanapun retina merupakan perpanjangan dari otak, dan dengan melihat ke dalamnya, seorang dokter tidak hanya melihat otaknya saja, tapi juga kondisi arteri.

Melihat bagian belakang mata sama seperti melihat bagian tubuh lainnya melalui sebuah jendela. Begitu pula dengan indera penciuman.

Reseptor pada hidung merupakan ekstensi saraf otak.

Dilansir dari laman mirror.co.uk, Dr Jonas Olofsson, penulis senior yang studinya dipublikasikan di American Geriatrics Society jurnal, mengatakan, “Hasil kami tidak dijelaskan oleh demensia, yang sebelumnya terkait dengan hilangnya bau”.

Halaman
12
Editor: oda
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help