Komunitas Roemah Toea Mengumpulkan Serpihan Masa Lalu

Pria bersurjan lurik dan berblangkon itu menunjukkan sederet foto kegiatan yang dilakukan pegiat komunitas Roemah Toea di Boyolali

Komunitas Roemah Toea Mengumpulkan Serpihan Masa Lalu
TRIBUN JOGJA/SETYA KRISNA SUMARGA
PAMER FOTO - Aga Yurista yang bersurjan dan berblangkon menunjukkan foto-foto hasil observasi lapangan komunitas Roemah Toea pada acara Indonesia Community Day (ICD) yang digelar Kompasiana dan Tribun Jogja di Plasa Ngasem, Sabtu (13/5). 

Historia est Magistra Vitae. Sejarah adalah guru terbaik. Demikianlah kata-kata kuno Yunani itu mengingatkan pada kita, betapa masa lalu bisa memberi pelajaran masa kini dan yang akan datang. Komunitas Roemah Toea mencoba fokus menelisik bangunan dan peninggalan-peninggalan kuno, dan rupanya ada begitu banyak pelajaran bisa diserap.

PRIA bersurjan lurik dan berblangkon itu menunjukkan sederet foto kegiatan yang dilakukan pegiat komunitas Roemah Toea di Boyolali, beberapa pekan lalu.

"Itu pilar-pilar sungguh menakjubkan seperti di tiang bangunan Romawi atau Yunani," kata Aga Yurista Pambayun di Plaza Ngasem, Sabtu (13/5) siang.

Pilar yang dimaksud Aga adalah penanda nisan di komplek makam keluarga JAC Dezentje di daerah Ampel.

Pria ini di komunitas Roemah Toea kebagian tugas menjadi observer dan pemeriksa sekaligus pengumpul informasi lapangan.

Komplek kerkof itu dikunjunginya beberapa pekan lalu. Foto-foto hasil kerja dan kunjungan lapangannya dipamerkan di acara seru Indonesia Community Day (ICD), yang digelar Kompasiana dan Tribun Jogja.

Aga mendapatkan pengalaman seru ketika menyambangi komplek makam JAC Dezentje dan keluarganya.

Semak-semak dan tumbuhan meliar menyelimuti pilar setinggi lebih kurang 3,5 meter.

"Makam itu telantar, tidak ada yang mengurus," kata Aga.

"Tulisan penanda masing-masing makam, itu makam siapa-siapanya juga udah nggak ada. Marmernya dicongkel dan raib tanpa jejak," imbuhnya. Aga dan dua pegiat bangunan kuno terpaksa meembabati semak-semak dan tanaman nan merimbun untuk melihat area makam.

MAKAM BELANDA - Aga Yurista dan seorang pegiat komunitas Roemah Toea berdiri di depan pilar-pilar tinggi di komplek makam JAC Dezentje di daerah Ampel, Boyolali. Komplek makam keluarga JAC Dezentje itu telantar dan penuh semak belukar. Pria Belanda itu dulunya dikenal pengusaha besar kopi di Boyolali, dan beristrikan bangsawan Solo.
MAKAM BELANDA - Aga Yurista dan seorang pegiat komunitas Roemah Toea berdiri di depan pilar-pilar tinggi di komplek makam JAC Dezentje di daerah Ampel, Boyolali. Komplek makam keluarga JAC Dezentje itu telantar dan penuh semak belukar. Pria Belanda itu dulunya dikenal pengusaha besar kopi di Boyolali, dan beristrikan bangsawan Solo. (DOKUMENTASI ROEMAH TOEA)

Bandar kopi

JAC Dezentje dulu dikenal pengusaha sukses, bandar kopi sekaligus pemilik perkebunan kopi terbesar di Ampel, Boyolali.

Produksinya luar biasa dan diekspor ke Eropa melalui pelabuhan Rotterdam. JAC Dezentje punya rumah besar di Solo.

Bangunan itu kini digunakan sebagai rumah dinas Wali Kota Solo, atau yang dikenal dengan sebutan Loji Gandrung di Jalan Slamet Riyadi.

"JAC Dezentje beristrikan wanita pribumi Solo, dan konon masih kerabat bangsawan," jelas Aga.

Makam JAC Dezentje di kerkof itu kini hanya ditandai tulisan spidol.

Makam istrinya ada di sebelahnya, dan kadang masih disambangi entah siapa, karena di batu nisan itu kerap ditemukan bunga sesaji.

Inilah sebagian kecil hasil "perburuan" pegiat komunitas Roemah Toea.

Komunitas ini relatif masih baru, terbentuk sejak 7 Januari 2014. Roemah Toea diketuai Hari Kurniawan, seorang pemuda yang begitu tertarik pada sejarah, terutama era kolonial yang begitu panjang dan penuh drama.

Komunitas ini terbentuk karena kesamaan hobi dan minat para pegiatnya pada benda dan bangunan tua bersejarah.

"Kami ingin agar sejarah kolonial dikenal, dan bisa dipelajari bersama generasi sekarang," jelas Aga menceritakan tujuan berdirinya komunitas ini.

Sebagai usahanya, anggota komunitas ini kerap blusukan ke berbagai tempat.

Seringnya ke situs- situs yang sudah mulai dilupakan banyak orang. Bahkan kondisinya telantar, rusak, dan sebagian besar nyaris hilang jejaknya.

Halaman
12
Penulis: xna
Editor: dik
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved