TribunJogja/
Home »

DIY

» Bantul

Bangsal di Keraton Direnovasi, Pekerja Renovasi Kenakan Seragam Khusus

Para pekerja diharuskan mengikuti peraturan yang ada, satu di antaranya adalah dengan mengenakan pakaian kerja khusus.

Bangsal di Keraton Direnovasi, Pekerja Renovasi Kenakan Seragam Khusus
youtube
Bangsal Kencono di Keraton Yogyakarta 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Dua bangsal di area Keraton Ngayogyakarta Hadningrat sedang direnovasi. Keduanya adalah Bangsal Kencono dan Bangsal Proboyokso.

Kepala Cipta Karya Dinas Pekerjaan Umum Perumahan Energi Sumber Daya Mineral (PUP ESDM) DIY, M Mansur menjelaskan bahwa renovasi yang dimulai sejak Sabtu (29/4/2017) tersebut ditargetkan rampung pada penghujung tahun 2017 dan menghabiskan biaya sekitar Rp 7 miliar.

Mansur menjelaskan, ada sekitar 30 pekerja yang setiap hari bertugas untuk merenovasi kedua bangsal tersebut.

Bekerja di area Keraton, para pekerja diharuskan mengikuti peraturan yang ada, satu di antaranya adalah dengan mengenakan pakaian kerja khusus.

"Sebelum itu direnovasi, mendapatkan rekomendasi dan arahan dari pihak Keraton dari sisi apapun, termasuk pekerja. Pekerja tidak boleh sembarang masuk. Di sana pakai seragam, atasan merah dan bawahan hitam," ujarnya ketika dihubungi, Jumat (5/5/2017).

Selain itu, lanjutnya, ada perlakuan khusus untuk benda yang ditempatkan di Bangsal Proboyokso. Hal itu dikarenakan tempat tersebut digunakan untuk menyimpan Keris dan benda pusaka lain, sehingga harus diperlakukan dengan hati-hati.

"Itu juga harus seizin pihak Keraton. Pokoknya semua yang terkait dengan pernak-pernik Keraton, seizin Keraton," tandasnya.

Dalam renovasi tersebut, Mansur menambahkan bahwa dibentuk tim kerja khusus yang melibatkan arkeolog, arsitek, ahli cagar budaya, dan sebagainya.

Hal tersebut dilakukan agar renovasi bisa berjalan dengan tepat dan tidak merusak beberapa elemen yang sebenarnya masih bisa dipertahankan.

"Prinsipnya kita revitalisasi. Sedapat mungkin dipertahankan, tapi kalau nggak bisa ya diganti. Karena itu heritage dan barang spesifik di Keraton. kalau bisa diupayakan dipakai ya dipakai, tapi kalau sudah tidak bisa dipakai ya apa boleh buat. Itu yang nyeleksi temen-temen dari cagar budaya dan arkeolog," bebernya.

Halaman
12
Penulis: kur
Editor: oda
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help