TribunJogja/

Tekuni Olahraga Terjun Payung, Perempuan Cantik Ini Nyaris Kehilangan Nyawa Dua Kali

Bagi Chintia terjun payung memang bukan olahraga yang menakutkan lagi. Ia bahkan merasa ketagihan jika lama tidak terjun.

Tekuni Olahraga Terjun Payung, Perempuan Cantik Ini Nyaris Kehilangan Nyawa Dua Kali
Dokpri
Chintia Intan Lufiane Doodoh Koloay 

Latar belakang keluarga Chintia bukan dari atlet terjun payung seperti seniornya, penerjun kawakan Pinkan Natalia Mandagi.

Chintia berasal dari keluarga yg sederhana pasangan dari Alexander Doodoh (ayah) dan Maria Yeane Koloay (ibu) anak pertama dari 3 bersaudara.

Rasa takut memang dialami Chintia ketika pertama kali melakukan terjun payung. Bahkan ia mengakui sangatlah luar bias rasa takutnya. Tapi setelah melaksanakan terjun payung kesekian kali malah jadi ketagihan.

Chintia Intan Lufiane Doodoh Koloay saat beraksi.
Chintia Intan Lufiane Doodoh Koloay saat beraksi. (Dokpri)

Kemampuan dan kemahiran terjun payung Chintia makin meningkat ketika mendapat kesempatan untuk ikut terjun penyegaran (jungar) safari dirgantara TNI AU.

Bersama timnya, Chintia terjun keliling Indonesia dan dalam penerjunan itu mereka diasah kemampuannya dengan medan pendaratan dan arah angin yang berbeda.

Pengalaman mendebarkan Chintia terjadi ketika terpaksa menggunakan parasut cadangan sewaktu terjun di kawasan Rumpin, Bogor, Jawa Barat tahun (2013) dan di Yogyakarta (2015).

Pasalnya,  saat itu parasut utamanya mengalami trouble dan sudah tidak bisa di-recover lagi.  

Dalam hitungan detik, Chintia harus berani mengambil keputusan untuk keselamatan dirinya.

Namun semua kendala dan pengalaman mendebarkan itu justru tak membuatnya kapok karena banyak hal yang bisa diraih melalui terjun payung.

Menurut Chintia berdasar pengalaman seniornya, Pingkan, jika ditekuni secara professional, terjun payung juga bisa menyejahterakan para atletnya.

Halaman
123
Editor: oda
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help