TribunJogja/
Home »

DIY

» Sleman

Polda DIY Bentuk Tim Khusus dalam Penyelidikan Berita Hoax

Tim yang akan mengungkap keberadaan portal berita pengunggah berita HOAX sekaligus mengandung unsur SARA ini akan mendapat bantuan dari Mabes Polri.

Polda DIY Bentuk Tim Khusus dalam Penyelidikan Berita Hoax
Potongan pemberitaan situs metronews.tk yang dilaporkan Sri Sultan HB X 

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Polda DIY membentuk tim khusus dalam penyelidikan berita HOAX yang dilaporkan Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X.

Tim yang akan mengungkap keberadaan portal berita pengunggah berita HOAX sekaligus mengandung unsur SARA ini akan mendapat bantuan dari Mabes Polri.

Adapun sebelumnya Sri Sultan Hamengku Buwono X, melapor ke Polda DIY terkait muatan berita SARA di sebuah blog. Dalam situs itu, seolah HB X memberikan pernyataan yang memojokkan salah satu etnis tertentu.

Kabid Humas Polda DIY AKBP Yulianto menjelaskan, dalam perkembangannya, kepolisian membentuk tim khusus yang sebagian besar berasal dari jajaran yang ada di Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Direskrimsus) Polda DIY.

Adapun anggota yang bertugas di direktorat ini sudah terbiasa dan ahli dalam mengungkap kejahatan cyber.

”Untuk jumlah personel dalam tim ini masih bisa berkembang, termasuk bila ada penambahan ahli-ahli yang bergerak di bidang cyber," ujar Yulianto, Kamis (20/4/2017).

Selain itu, untuk memperlancar proses penyelidikan Polda DIY juga mendapat bantuan dari Mabes Polri. Namun demikian, penanganan kasus yang disebut sebagai penyebar kebencian tetap di Polda DIY.

"Mabes polri memang mem-backup dengan membantu penyelidikan. Bisa dari segi tenaga SDM maupun teknologi," tambahnya.

Saat disinggung tentang fokus penyelidikan apakah mengarah kepada pembuat berita atau penyebar berita, mantan Kapolres Sleman ini enggan berkomentar.

Namun demikian, dalam kasus ini penyidik dimungkinkan akan menerapkan dua pasal dalam Undang-Undang Nomor 11 tahun 2008 tentang ITE, yakni pasal 27 tentang pencemaran nama baik, serta pasal 28 yang lebih ke menyebarkan berita yang menimbulkan kebencian, permusuhan yang ditujukan ke individu maupun kelompok masyarakat berdasarkan sara, suku, agama, ras dan antar golongan.

"Jadi fokusnya memang web berita itu. Belum bisa saya sebutkan yang dikejar si pembuat atau penyebar," bebernya.

Sementara dalam proses penyelidikannya, tidak ada perlakuan khusus walaupun yang melapor adalah orang nomor 1 di Yogyakarta.

”Kemarin saja Ngarso Ndalem memberikan laporan sendiri ke SPKT. Proses koordiasi penyelidikan ke depan akan disesuaikan,” tandasnya. (*)

Penulis: nto
Editor: oda
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help