TribunJogja/

AUM, Refleksi Pertanyaan Atas Kasus-kasus yang Tak Terselesaikan

Agung menjelaskan lakon tersebut menceritakan perjalanan segerombolan orang udik yang mendatangi rumah Bupati, untuk melakukan pengaduan.

AUM, Refleksi Pertanyaan Atas Kasus-kasus yang Tak Terselesaikan
Ist
Pementasan teater dengan lakon AUM karya Putu Wijaya di gedung Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta, Rabu (19/4/2017). 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Kelompok Kesenian Satusaka, yang dipunggawai oleh mahasiswa Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga, menggelar sebuah pementasan teater dengan lakon AUM karya Putu Wijaya di gedung Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta, Rabu (19/4/2017).

"Ketika pertanyaan-pertanyaan sekian lama ditumpuk, maka yang terjadi adalah chaos berkepanjangan. Kemudian, ketika seluruh pertanyaan dilontarkan bersamaan maka yang terjadi adalah tidak ada solusi dan penyelesaian yang jelas. Seperti AUMan yang tak berbalas," ujar. Agung Pambudi perwakilan Satsuka

Agung menjelaskan lakon tersebut menceritakan perjalanan segerombolan orang udik yang mendatangi rumah Bupati, untuk melakukan pengaduan atas segala persoalan yang dihadapi, namun tak kunjung mendapatkan jawaban yang pasti.

"Mereka harus berhadapan dengan satpam penjaga yang keras sebelum akhirnya bisa bertemu dengan Bupati dan mengadukan persoalan," ujarnya.

Di akhir cerita, monster keluar dari dalam kurungan yang dibawa para udik sebagai simbol kegelisahan-kegelisahan yang menghantui mereka, dan kepala keluarga memimpin rombongan udik melakukan bunuh diri serentak karna merasa sudah tidak ada jalan lain lagi ketika Bupati pun tak memberikan penyelesaian.

Cerita tersebut merupakan tafsiran yang dikaji dari naskah asli yang terlah diubah oleh sang sutradara, Cahya Purwandi atas arahan pembina.

Abimanyu P Perdana, selaku penata laku dan pembina proses menekankan bahwa lakon AUM merupakan refleksi atas dinamika kehidupan yang terjadi saat ini, dimana setiap orang dapat melontarkan argumen, pertanyaan, kritik, dan lain-lain.

"Atas segala sesuatu dengan bebas dan mudah melalui berbagai sarana yang ada, yang justru membuat semua orang kebingungan dan segalanya menjadi runyam. Mana yang harus diselesaikan dan kepada siapa kita harus menanyakan semua hal itu?" Jelas Abimanyu.

Pementasan yang berdurasi sekitar dua jam dan dimulai pukul 20.00 WIB tersebut diawali dengan penampilan Sandosa Truper, sebagai pengantar cerita AUM yang menggunakan media wayang bayangan dan diakhiri dengan back sound berita kasus-kasus di Indonesia yang belum terselesaikan serta monolog dari M Shodik.

Selain itu, Satusaka juga berkolaborasi dengan berbagai pihak dalam pagelaran tersebut seperti Sanggar Pamong pada musik pengiring, Sangkala, Sanggar Ilir, Fieldtrip performing art, Bengkel seni Alugara, Difikom, dan Suka Tv.

Satusaka akan mementaskan AUM kembali pada 29 April 2017 di Panggung Mikail, Dusun Ngruno Karangsari Pengasih Kulonprogo pukul 19.30 WIB. (*)

Penulis: app
Editor: oda
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help