Home »

DIY

» Sleman

Kisah Pilu Balita Penderita Hidrosefalus Sejak di Kandungan

Sejak didiagnosa menderita Hidrosefalus dalam kandungan ibunya, Fita menjadi ujian tersendiri untuk keluarga kecil itu

Kisah Pilu Balita Penderita Hidrosefalus Sejak di Kandungan
Tribun Jogja Rento Ari Nugroho
Siti Sundari (kanan) bersama ibunya, Ginah merawat balita Dhaffita Niza (2) yang menderita hidrosefalus di rumahnya di Durensawit, Mororejo, Tempel, Sleman, Rabu (19/4/2017). Dalam kondisi perekonomian yang serba terbatas, penyakit yang dialami balita ini membuat keluarga harus berpikir keras untuk mendukung pengobatan buah hatinya. 

Setiap keluarga tentu berbahagia ketika buah hati yang ditunggu-tunggu akhirnya lahir. Namun, kelahiran Dhaffita Niza di keluarga pasangan Budi Setiawan-Siti Sundari ini menjadi ujian di keluarga kecil yang hidup dalam keterbatasan ini. Balita mungil ini dalam usianya yang 2 tahun 8 bulan hanya bisa tergolek lemah karena hidrosefalus yang dideritanya.

RABU (19/4/2017) Tribun Jogja tiba di rumah pasutri di dusun Durensawit RT 4 RW 2 desa Mororejo, Kecamatan Tempel, Sleman, balita Fita terlihat bergerak aktif di kasur tipis yang dibentangkan di atas lantai rumah. Sang ibu mengajak anak keduanya itu bercanda tawa.

Fita pun merespons dengan bergerak lincah sembari berbaring. Kepala yang membesar tidak menghalangi anak itu untuk bercanda dengan ibunya.

"Sekarang Fita sudah tidak rewel lagi. Sejak dioperasi pemasangan selang pada umur 5 bulan, kepalanya yang sempat membesar mulai mengecil. Dulu lingkar kepalanya 62cm, sekarang tinggal 53. Kalaupun rewel, sekarang cuma karena lapar atau haus. Kalau dulu, sering sekali rewel," katanya.

Sejak didiagnosa menderita Hidrosefalus dalam kandungan ibunya, Fita menjadi ujian tersendiri untuk keluarga kecil itu.

Sang ayah bekerja di suatu bengkel motor di Godean sementara ibunya hanyalah ibu rumah tangga. Penghasilan Rp50 ribu sehari tentunya menjadi semakin berat tatkala Fita harus menjalani terapi secara rutin.

"Waktu Fita lahir, karena memang sudah diperkirakan kondisinya seperti itu, biayanya mencapai Rp 22 jutaan. BPJS memang membantu namun hanya sebagian sebagian karena kondisi Fita yang berkebutuhan khusus. Sisanya kami harus berhutang yang sampai sekarang pun belum lunas. Operasi pemasangan selang, kemudian terapi dua kali seminggu di RSUP dr Sardjito memang ditanggung BPJS karena kami ikut BPJS mandiri. Namun, biaya transportasinya cukup lumayan menguras keuangan," ungkap Siti.

Setiap Selasa dan Kamis Fita harus menjalani terapi. Karena sang ayah harus bekerja, maka seringkali sang nenek, Ginah, yang mengantar ibu dan anak itu.

Keterbatasan keuangan membuat uang mereka hanya cukup untuk biaya transportasi saja. Selama terapi, tak ada uang bahkan hanya untuk membeli minuman di jalan. "Ya mau gimana lagi, yang penting semakin membaik," kata Ginah.

Siti menyambung, melihat perkembangan Fita, ia optimis anaknya akan semakin membaik. Kata dokter, lanjut Siti, hingga umur 13 tahun asal tidak ada masalah berarti kondisi Fita tidak apa-apa. Setelah usia itu, kemungkinan diperlukan operasi lagi untuk menyambung selang yang telah terpasang.

Halaman
12
Penulis: toa
Editor: iwe
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help