[Inspiratif] Sri Hartini, Sosok Perempuan Jagawana Tangguh dari Gunungkidul

Seorang perempuan tangguh yang tak takut dan tak malu melakukan pekerjaan yang sepatutnya dikerjakan oleh kaum laki-laki.

[Inspiratif] Sri Hartini, Sosok Perempuan Jagawana Tangguh dari Gunungkidul
Tribun Jogja/ Rendika Ferri K
Sri Hartini 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Rendika Ferri K

TRIBUNJOGJA.COM, GUNUNGKIDUL - Kartini mungkin kini telah tiada, namun semangatnya terus membara dan berkobar dalam jiwa perempuan-perempuan indonesia masa kini.

Seperti Sri Hartini, sosok perempuan tangguh yang menjadi Jagawana, mengabdikan hidupnya untuk merawat dan melestarikan hutan tanpa mengharap upah dan balas jasa.

Sri Hartini adalah seorang Jagawana di Hutan Wonosadi, tepatnya di Dusun Duren, Desa Beji, Kecamatan Ngawen, Gunungkidul.

Seorang perempuan tangguh yang tak takut dan tak malu melakukan pekerjaan yang sepatutnya dikerjakan oleh kaum laki-laki.

Ditemui di kediamannya di Dusun Duren, Desa Beji, Kecamatan Ngawen, Gunungkidul, Ia bercerita sehari-hari selama delapan tahun lamanya semenjak tahun 2009, dia mengabdikan hidupnya menjadi Jagawana, yang merawat dan menjaga Hutan Wonosadi.

Hutan seluas 25 hektar tersebut dianggapnya menjadi tempat bernaung segala macam flora fauna yang dilindungi serta menyimpan air untuk sumber kehidupan dan penghidupan untuk ratusan keluaga di wilayah dua dusun di Desa Beji.

"Selama delapan tahun lamanya saya menjadi Jagawana. Setiap hari, saya menyambangi hutan, membersihkan dan merawat hutan agar tetap terjaga kelestariannya," ujar Sri, Kamis (20/4).

Sebelum Sudiono, ayah dari Sri Hartini meninggal, dia memberi pesan kepada Sri, 'Janganlah meninggalkan air mata tetapi tinggalkanlah mata air'. Pesan tersebut sangat membekas di dalam hati Sri, dan akhirnya menjadi alasan baginya menjaga dan melestarikan Hutan Wonosadi.

Ia bercerita, pada tahun 1966 lalu, kondisi hutan Wonosadi jauh berbeda dengan keadaan sekarang. Penggundulan terjadi dimana-mana, bencana tanah longsor yang kerap terjadi, dan sumber mata air yang menghilang menyebabkan kekeringan di Desa Beji, hewan kehilangan habitat tinggalnya.

Namun berkat kerja keras almarhum ayahnya, Sudiono, hutan tersebut kembali subur. Pepohonan bertumbuhan di sekitar Gunung Gambar, dan merindangi hutan Wonosadi. Empat mata air yang semula hilang kini memancar deras mengaliri lahan pertanian di seluruh wilayah padukuhan.

"Hutan yang semula gundul kini rimbun kembali. Mata air kembali muncul, wilayah yang dulu kekeringan menjadi subur dan kini petani dapat menanam padi dua kali setahun. Warga dapat tercukupi kebutuhan akan air," ujar Sri.

"Saya mengambil semangat tanpa pamrih dari bapak, dari tahun 1966, bekerja tanpa mengharapkan upah apapun. Semuanya karena keikhlasan. Demi masa depan anak cucu kita nanti," ujar Sri. (*)

Penulis: rfk
Editor: ton
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help