TribunJogja/

Dishub DIY Cari Desain Baru Becak Kayuh Berciri Khas Yogyakarta

Kepala Dishub DIY mengajak masyarakat luas untuk berpartisipasi menyumbangkan ide untuk tampilan becak kayuh DIY yang ikonik.

Dishub DIY Cari Desain Baru Becak Kayuh Berciri Khas Yogyakarta
TRIBUNJOGJA.COM/Hasan Sakri Ghozali
WISATA RELIGI. Sejumlah bhiksu menaiki becak saat melintas di jalan Langenastran Lor, Kota Yogyakarta, Rabu (4/2/2015). 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Dinas Perhubungan DIY tengah menyiapkan desain baru becak kayuh di Yogyakarta sebagai tindak lanjut dari Perda nomor 5 tahun 2016 tentang moda transportasi tradisional becak dan andong.

Hal tersebut dilakukan dengan menyelenggarakan lomba desain becak yang bisa diikuti seluruh peserta se-Indonesia.

Pelaksana Tugas (PLT) Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) DIY, Gatot Saptadi mengatakan bahwa melalui lomba tersebut ia mengajak masyarakat luas untuk berpartisipasi menyumbangkan ide untuk tampilan becak kayuh DIY yang ikonik.

"Kita lihat dulu desainnya ini mana yang efisien dan cocok untuk DIY, itu yang akan diterapkan. Nantinya juga akan menuju becak kayuh yang ringan dan manusiawi, tidak yang membutuhkan tenaga besar seperti sekarang. Kita lihat perkembangannya, tidak menutup kemungkinan nantinya juga bisa (diterapkan) becak listrik," terangnya kepada Tribun Jogja, Selasa (18/4/2017).

MENGEMUDIKAN BECAK - Seorang wisatawan asing mengemudikan becak saat melintas di kawasan Keraton Yogyakarta, DI Yogyakarta, Jumat(30/9/2011). Selain sebagai alat transportasi tradisional becak juga bisa menjadi daya tarik wisata.
MENGEMUDIKAN BECAK - Seorang wisatawan asing mengemudikan becak saat melintas di kawasan Keraton Yogyakarta, DI Yogyakarta, Jumat(30/9/2011). Selain sebagai alat transportasi tradisional becak juga bisa menjadi daya tarik wisata. (TRIBUNJOGJA.COM/Hasan Sakri Ghozali)

Gatot menambahkan, setelah ditentukan pemenang dari lomba desain becak tersebut, Pemda DIY akan terus merangkul pencipta desain untuk kemudian dilibatkan dalam produksi massal becak kayuh dengan desain baru.

"Nanti pembuatnya juga menjelaskan desain dan cara pengoperasiannya secara teknis dan non-teknis. Kalau teknis tentang cara menjalankan becaknya, kalau.non-teknis hubungannya dengan pariwisata (filosofi desain becak)," ungkapnya.

Dishub DIY dalam hal ini juga akan menggandeng Dinas Pariwisata DIY dan juga Pemerintah Kota Yogyakarta di mana ada 5.085 pengayuh becak yang tersebar di sana.

Sementara itu, Kabid Angkutan Darat Dishub DIY, Agus Harry Triono menjelaskan bahwa lomba tersebut juga diadakan untuk mengangkat eksistensi becak kayuh di Yogyakarta, sekaligus melibatkan para pengayuh becak dalam bagian pariwisata Yogyakarta.

ASET WISATA - Sejumlah wisatawan asing menaiki becak saat melintas di jalan Kompol Bambang Suprapto, Kota Yogyakarta, Senin (16/4/2012). Keberadaan moda transportasi tradisional seperti becak merupakan aset daya tarik wisata terutama untuk wisatawan asing.
ASET WISATA - Sejumlah wisatawan asing menaiki becak saat melintas di jalan Kompol Bambang Suprapto, Kota Yogyakarta, Senin (16/4/2012). Keberadaan moda transportasi tradisional seperti becak merupakan aset daya tarik wisata terutama untuk wisatawan asing. (TRIBUNJOGJA.COM/Hasan Sakri Ghozali)

Nantinya konsep yang masuk akan dipilih oleh dewan juri yang juga ada dari pihak kebudayaan. Hasil dari penjurian akan dikonsultasikan kepada Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X.

"Tahapannya diawali dengan pemilihan desain. Selanjutnya akan dibuat kajian tentang becak, bisa dari sisi lembaga dan juga mekanisme pemberdayaan pengayuh becak. Pemberdayaan tersebut bertujuan untuk meningkatkan kemampuan mereka untuk berbagi informasi tentang pariwisata di Yogya," tandasnya.

Agus, sapaan akrabnya, mengatakan bahwa disesuaikan dengan kapasitas becak kayuh, maka nantinya penempatan becak kayuh akan disesuaikan.

"Kita lihat dulu nanti (zonasi), karena pergerakan nggak jauh. Kita lihat misalkan (ditempatkan di) Malioboro, Keraton, dan kemungkinan juga Kota Gede. Pergerakan mereka nggak bisa jauh. Kita optimalkan peran becak bagian dari wisata budaya," bebernya.

Terkait waktu impelemntasi di lapangan, Agus menjelaskan bahwa prosesnya masih sangat panjang.

"Bisa juga nanti dari pihak ketiga mengajak CSR kalau desain sudah keluar. Kita tawarkan pada pihak pemangku wisata, misalkan perhotelan. Kita coba beberapa mekanisme agar mereka (pengayuh becak) terakomodasi," pungkasnya. (*)

Penulis: kur
Editor: oda
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help