Smart Woman

Sarat Prestasi, Mahasiswi FIK UNY Ini Kian Mantap Tekuni Olahraga Gulat

Olahraga ini menuntut atletnya untuk memperkuat kekuatan bahu untuk mendorong dan membanting lawannya.

Sarat Prestasi, Mahasiswi FIK UNY Ini Kian Mantap Tekuni Olahraga Gulat
Tribun Jogja/ Bramasto Adhy
Aflaharani Uhacham 

TRIBUNJOGJA.COM - Umumnya, cabang olahraga bela diri kerap dihindari kaum wanita. Namun tidak bagi Aflaharani Uhacham, ia justru mantap menekuni olahraga gulat.

Perkenalan Afla dengan dunia gulat pun berawal dari iseng semata. Sejak SMP, Afla memang punya kebiasaan berkelahi dengan temannya. Bahkan pihak sekolah pun sempat menerapkan 'naik kelas bersyarat' lantaran ulah Afla ini.

Melihat potensi yang dimilikinya, sang kawan pun menyarankan Afla untuk mendaftar menjadi atlet gulat saat SMA. Mengaku tidak memiliki latar belakang keolahragaan, Afla pun terkejut dapat lolos seleksi Porprov tahun 2011 silam.

"Waktu itu hanya latihan empat bulan, hanya dikasih pengetahuan tentang dasar-dasar bertanding saja. Pas pertandingan bertemu atlet-atlet senior yang sudah berpengalaman, sempat dua kali kalah dan dua kali menang. Kebetulan waktu itu langsung dapat medali perunggu," kenang mahasiswa Fakultas Ilmu Keolahragaan UNY ini.

Prestasi perdananya ini kemudian mendorongnya untuk terus menyeriusi gulat. Terlebih, baginya gulat berbeda dengan bela diri lain karena lebih mengandalkan banting dan dorong saja.

Olahraga ini menuntut atletnya untuk memperkuat kekuatan bahu untuk mendorong dan membanting lawannya.

Begitu juga Afla yang juga harus menguasai teknik dari bawah maupun sapuan untuk menjatuhkan pesaingnya.

"Gulat itu seru, beda dengan Muay Thai yang banyak striking. Terlebih sekarang ini Muay Thai sudah banyak pesaingnya, jadi saya tidak tertarik," kata dara dengan tinggi badan 170 cm dan berat badan 63 kg ini.

Keputusan anak kedua dari tiga bersaudara ini untuk terjun ke dunia gulat pun sempat dipertanyakan orangtuanya.

Seperti halnya orangtua pada umumnya yang tidak ingin anaknya terluka, orangtua Afla pun mengkhawatirkan risiko cidera fisik yang dapat menimpa anaknya kelak.

Namun melihat prestasi perdana Afla, orangtuanya pun mempercayai dan mendukung kemauan atlet gulat asal Sleman ini. Untuk mewujudkan keinginannya menjadi atlet profesional, Afla pun harus giat berlatih empat kali dalam seminggu di sasana MMA.

Pengorbanannya pun tidak sia-sia, Afla sempat menyabet medali Perak pada Porda 2011 dan 2013, serta Peringkat 4 PON Gulat Jabar 2016 lalu. (*)

Penulis: gya
Editor: ton
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help