TribunJogja/

Sayang, Ikhlaskan atau Halalkan Aku …

Hindari niat cacat dalam menikah. Contohnya, menikah karena bosan dengan status sendiri, karena faktor eksternal

Sayang, Ikhlaskan atau Halalkan Aku …
IST
Ilustrasi 

TRIBUNJOGJA.com, MALANG - HMJ Akuntansi FEB Universitas Muhammadiyah Malang mengadakan kajian keislaman Ikhlaskan atau Halalkan Aku bersama Ustadz Yosi Al Muzzani, CEO Klik Klinik Nikah sebagai pemateri, pada Jumat (31/3/2017) lalu.

Pada kesempatan tersebut, Yosi menyampaikan beberapa nasehat terkait pernikahan. Menurutnya, tak ada salahnya dengan niat nikah muda karena pacaran hanya menghempaskan rezeki, jomblo menstabilkan rezeki, dan menikah melejitkan rezeki.

Ia berpesan agar memperhatikan beberapa hal sebelum menikah. Yakni, meluruskan dan meluaskan niat menikah. Menikah memang menyempurnakan separo agama, dan tujuan utama untuk beribadah.

Tetapi,lanjutnya, juga harus dipikirkan niat-niat yang lain, seperti mengapa sampai menggebu untuk menikah. Pernikahan itu bukan soal tua atau muda tetapi soal kematangan dan seberapa siap untuk menjadi suami atau istri.

Hindari niat cacat dalam menikah. Contohnya, menikah karena bosan dengan status sendiri, karena faktor eksternal, seperti dibully atau baper melihat teman-teman sudah menikah, karena balas dendam kepada mantan sehingga menikah hanya sekadar pamer bisa mendapat pasangan yang lebih baik dari mantan, dan hanya berdasar cinta semata.

Jangan lupa, senantiasa libatkan Allah dalam urusan cinta. Jangan merasa sok kuat karena setan mudah menggoda dan kita harus mengaku lemah di hadapan Allah untuk meminta pertolongan-Nya.

Semakin kita berdoa, semakin merasa butuh Allah, dan sebaiknya juga tak menyepelekan ikhtiar-ikhtiar kecil. Seperti menetapkan tanggal pernikahan, menyebar undangan, menanyakan harga catering, dan sebagainya meski belum memiliki calon, karena ikhtiar-ikhtiar itulah yang akan menjadi penyambung doa-doa kita.

Tak, kalah pentingnya adalah mempertebal rasa belum pantas. Dengan rasa belum pantas itu kita akan sadar diri dengan tak mudah membuka hati dan tak mudah mengeksekusi setiap keputusan.

Selain itu, apabila sudah memiliki satu nama yang menjadi calon pendamping hidup, alangkah baiknya memikirkan dan menimbang baik buruknya. Sudah pantaskah nama tersebut?

Kalau ingin dipantaskan sering-seringlah berdialog dengan Allah. Khusus untuk kaum adam apabila memang sudah mantap untuk menikah adalah menunjukkan sikap gentlenya dengan melamar karena sekadar berkomitmen “saya nanti akan menikahimu” tak ada artinya sama sekali. Untuk kaum hawa berilah kesempatan seseorang yang mau berhijrah, sebab orang yang sekadar saleh belum tentu ibadahnya konsisten.

Terakhir, berdamai dengan masa lalu, sebab bisa jadi kita sampai sekarang belum dipertemukan dengan jodoh karena belum memaafkan mereka yang pernah menyakiti kita. Dan cara mudah memaafkan adalah dengan mendoakan kebaikan orang-orang tersebut saat salat malam. Dengan demikian bukan hanya rasa ikhlas yang didapatkan tetapi jodoh akan datang tiba-tiba. (*)

Ditulis oleh Dian Tri Lestari, Mahasiswa Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Islam Malang di Surya

Editor: mon
Sumber: Surya
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help