Nantinya Ada Museum dan Perpustakaan di Makam Imogiri Bantul

Perpustakaan tersebut, imbuhnya, juga dapat menjadi tempat mahasiswa maupun akademisi untuk mencari sejarah, riwayat, dan karya-karya seniman di DIY.

Nantinya Ada Museum dan Perpustakaan di Makam Imogiri Bantul
Tribun Jogja/Anas Apriyadi
Ribuan warga antusias mengikuti ritual Nguras Enceh di Makam Raja-raja, Pajimatan, Imogiri pada Jumat (23/10/2015). (ilustrasi) 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Kurniatul Hidayah

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Kompleks Makam Seniman Imogiri Bantul nantinya tidak hanya untuk persemayaman jasad para seniman, namun di situ juga rencananya akan didirikan museum dan juga perpustakaan seniman DIY.

Pemilik Makam Seniman Imogiri, Yani Saptohudoyo menjelaskan mendiang sang suami yakni Saptohudoyo semasa hidupnya menginginkan berdirinya museum seniman di kompleks makam, sehingga pengunjung yang datang ke sana tahu siapa saja seniman yang telah dimakamkan di sana melalui karya yang dimuseumkan.

"Di samping itu, ada perpustakaan untuk tempat dibukukan sejarah dan riwayat hidupnya (seniman). Ngarso Dalem mendukung. Tim akan segera kami bentuk. Seniman dilibatkan agar karya mereka bisa dipasang di sana," ujarnya seusai melakukan pertemuan dengan Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X, di Kepatihan, Senin (20/3/2017).

Perpustakaan tersebut, imbuhnya, juga dapat menjadi tempat mahasiswa maupun akademisi untuk mencari sejarah, riwayat, dan karya-karya seniman di DIY.

Adapun seniman yang dimakamkan di kompleks tersebut meliputi pelukis, sastrawan, pematung, penari, pengarang buku atau komik, dan sebagainya yang jumlahnya berkisar 50 seniman.

Ketua Umum Lembaga Kebudayaan Nasional Indonesia (LKNI), Totok Sudarwoto mencontohkan karya seniman yang akan diabadikan di museum adalah milik pematung Edi Sunarso.

"Semua patung di Jakarta itu karya Oak Edi. Pak Edi dan Bu Edi dimakamkan di sana. Pak Saptoto itu yang membangun Monumen Satu Maret. Itu maket-maketnya masih ada semua, itu yang nanti buat ngisi museum," bebernya.

Pembangunan museum dan perpustakaan tersebut, imbuhnya, kerjasama dari berbagai pihak. Mulai dari pemilik Kompleks Makam Seniman Imogiri Bantul, LKNI, Institut Seni Indonesia (ISI), dan Dinas Kebudayaan DIY.

"Biayanya nanti dari danais. Keberadaan museum ini nanti juga tidak hanya untuk publik DIY, tapi juga dunia karena satu-satunya di dunia," bebernya. (*)

Penulis: kur
Editor: oda
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help