TribunJogja/

Menengok Potret Pembuat Arang Kayu Tradisional di Desa Jatimulyo Kulonprogo

Saat ini, arang sudah semakin jarang dipakai karena tergusur oleh jenis bahan bakar fosil maupun gas dan briket.

Menengok Potret Pembuat Arang Kayu Tradisional di Desa Jatimulyo Kulonprogo
Tribun Jogja/ Singgih Wahyu Nugraha
Proses pembuatan arang tradisional di Desa Jatimulyo, Kulonprogo 

Durasi pembakaran yang cukup panjang mengharuskan api tetap menyala tanpa jeda. Untuk itu, di bagian samping kubus kayu, Parif mengoleskan tanah liat dalam ketebalan tertentu dan tumpukan dedaunan di bagian atas.

Menurutnya, tanah liat akan membuat nyala api tetap terjaga stabil dan tak tertiup angin dari arah samping serta proses pembakaran yang sempurna. Sedangkan dedaunan selain berfungsi menahan cucuran air juga berfungsi untuk menjaga proses pembakaran tidak berlebihan sehingga kayu tidak terbakar habis dan menjadi arang yang bagus.

Kayu yang sering digunakannya sebagai bahan pembuatan arang adalah jenis-jenis kayu keras seperti mahoni dan sonokeling. Kayu keras macam itu akan menghasilkan arang yang awet dipakai dan bernyala api cukup bagus.

Dalam sekali pembuatan, dirinya paling tidak membutuhkan sekubik kayu dan menghasilkan hingga 5-6 karung besar arang. Tiap karungnya dijual dengan harga Rp50 ribu-56 ribu kepada pengepul di wuilayah Wates dan Sedayu (Bantul).

“Saya sudah ada pelanggan sendiri di Wates dan Sedayu. Biasanya dijual lagi ke pedagang-pedagang sate dan lainnya yang membutuhkan arang,” ujarnya.

Arif bukanlah satu-satunya pembuat arang tradisional di Jatimulyo. Beberapa tetangganya juga menekuni pekerjaan yang sama.

Bagi mereka, membuat arang sudah seperti menyambung hidup. Meski arang kayu kian dipinggirkan oleh gas dan minyak bumi, dirinya tetap tekun membakar arang untuk mengasapi dapur rumahnya. (*)

Penulis: ing
Editor: ton
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help