TribunJogja/
Home »

DIY

Anelies Jatuh Cinta dengan Dunia Broadcasting

Impiannya untuk jadi penyiar pun baru bisa terwujud saat Anelies menempuh bangku kuliah.

Anelies Jatuh Cinta dengan Dunia Broadcasting
tribunjogja/bramasto adhy
Anelies Praramadhani 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Gaya Lufityanti

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA -  Ketertarikan Anelies Praramadhani pada dunia broadcasting rupanya sudah terlihat sejak kecil. Ia kerap mengikuti ajang lomba broadcasting yang mengantarkannya pada dunia presenting saat ini.

Impiannya untuk jadi penyiar pun baru bisa terwujud saat Anelies menempuh bangku kuliah. Menekuni profesi sebagai penyiar di sebuah stasiun radio swasta pun digelutinya selama dua tahun.

"Aku tipikalnya suka banget membaca dan seru aja menyampaikan informasi untuk orang lain," ujar mahasiswi S1 International Undergraduate Program (IUP) Manajemen FEB UGM ini.

Tanpa diduga, menjadi penyiar radio justru membuka peluangnya untuk terus mengembangkan diri. Ia terus menempa dirinya dengan banyak informasi, dan terlatih membuat materi sebelum programnya mengudara.

"Karena radio anak muda, jadi topiknya lebih ringan, harus browsing dulu sebelum siaran mengenai berita dalam maupun luar negeri, termasuk gosip artis-artis luar negeri yang saat ini sedang menjadi pembicaraan," tutur dara asli Yogyakarta ini.

Dari penyiar radio, pintu kesempatan pun terbuka. Anelies tidak ragu untuk mencoba pengalaman menjadi Master of Ceremony (MC) di berbagai event, maupun menjadi TV presenter yang kini masih dilakoninya.

Baginya, menjalani pekerjaan sebagai penyiar radio dan presenter TV sama-sama menghadirkan tantangan.

Saat menjadi presenter, Anelies seringkali dihadapkan dengan kehadiran narasumber yang mendadak. Ya, acapkali siapa narasumbernya baru diketahui sejak lima menit sebelum acara dimulai.

"Karenanya harus mutar otak, pengetahuan kita harus luas banget, mulai dari politik, pemilu, pilkada, pemerintahan hingga komunitas. Untuk mengantisipasinya memang harus banyak baca, aku bahkan sudah install beberapa aplikasi berita di ponsel dan untungnya sudah terlatih bikin materi siaran waktu jadi penyiar radio dulu," bebernya.

Slipped tounge menjadi hal yang lumrah di dunianya. Seminimal mungkin dihindari, pasti lidah terkadang berucap kata-kata yang tidak semestinya.

Jika Anelies mengalami slipped tounge, ia pun terus berupaya untuk memperbaikinya dengan kalimat yang benar.

"Slipped tounge itu terjadi manakala lidah tidak berkata seperti yang otak inginkan. Jadi ya harus ditutupi dengan baik, diperbaiki dengan kalimat yang benar," imbuh dara kelahiran 14 Januari 1996 ini.

Kini, Anelies sedang terlibat sebuah program berita lokal yang mengharuskannya membawakan berita dengan Bahasa Jawa. Bukan sebuah kesulitan tentunya berbahasa Jawa mengingat Anelies merupakan dara asli Yogyakarta.

Namun, membaca berita dengan menggunakan Bahasa Jawa menjadi pengalaman pertamanya dan terus menantang dirinya di dunia public speaking. (*) 

Penulis: gya
Editor: oda
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help