Gunungkidul Punya Rapor Merah soal Kualitas Lingkungan Hidup 

Banyak faktor yang menyebabkan kualitas lingkungan hidup masih kurang. Banyak lahan kritis pada lahan hutan, dan tingginya pencemaran sungai.

Gunungkidul Punya Rapor Merah soal Kualitas Lingkungan Hidup 
pollutiononmyearth.weebly.com
Ilustrasi pencemaran sungai 

TRIBUNJOGJA.COM, GUNUNGKIDUL - Kualitas lingkungan hidup di Kabupaten Gunungkidul masih kurang. Hal ini dilihat dari banyaknya lahan kritis dan masih tercemarnya sungai-sungai yang ada di wilayah Gunungkidul.

Hal ini didasarkan pada penilaian Indeks Kualitas Lingkungan Hidup (IKLH) bernilai 65,19 yang masuk dalam kategori kurang. IKLH ini merupakan rerata gabungan dari nilai Indeks Pencemaran Air (IPA), Indeks Pencemaran Udara (IPU) dan Indeks Tutupan Hutan (ITH).

Plt Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Gunungkidul, Khairudin, mengakui jika kualitas lingkungan hidup yang ada di Gunungkidul memang masih dinilai kurang.

Ia mengatakan, banyak faktor yang menyebabkan kualitas lingkungan hidup masih kurang. Seperti banyaknya lahan kritis pada lahan hutan, dan tingginya pencemaran sungai oleh limbah rumah tangga.

"Faktor-faktor ini yang membuat IKLH kita masih jeblok. Jika tidak segera ditanggulangi, dapat semakin parah," ujar Khairudin, Minggu (19/3/2017).

Khairudin mengatakan, indeks tutupan hutan (ITH) yang ada saat ini sulit mengalami perubahan karena indikator yang ditetapkan bersifat konstan sehingga perlu adanya perbaikan indikator sebagai parameter IKLH.

Selain itu, Pemkab Gunungkidul tidak memiliki kuasa penuh atas pengelolaan hutan dikarenakan kewenangan akan pengelolaan hutan berada di provinsi.

Regulasi Perda yang ada pun belum cukup banyak mengatur terkait lingkungan hidup di Gunungkidul.

"Kewenangannya ada di provinsi, sehingga jika terjadi apa-apa kami mesi koordinasi ke sana," ujar Khairudin.

Terkait pencemaran sungai di Gunungkidul seperti yang terjadi di Kali Besole, Khairudin mengatakan hal tersebut terjadi karena masyarakat yang membuang limbah rumah tangganya ke sungai tanpa diproses terlebih dahulu.

Ia pun meminta kepada masyarakat agar tidak membuang limbah rumah tangga langsung ke sungai. Sebaliknya, pihaknya juga akan gencar melakukan himbauan dan juga sosialisasi kepada masyarakat.

"Akibatnya, air sungai tercemar, limbah-limbah dari rumah tangga seperti sabun, dan limbah lain langsung dibuang di sungai," ujar Khairudin.

Sementara itu, Anggota Komisi D DPRD Gunungkidul, Ari Siswanto, merasa heran, untuk sekelas Gunungkidul, yang masih alami dan jauh dari huru-hara perkotaan, masalah lahan kritis dan pencemaran sungai menurutnya tidak seharusnya terjadi.

Ia pun beranggapan, pemerintah seperti tidak serius mengatasi masalah lingkungan yang ada di Gunungkidul.

"Tidak layak untuk gunungkidul kok sampai ada lahan kritis dan pencemaran sungai, kalau sistem dibuat dengan benar pasti hal ini tidak akan terjadi," kritik Ari, Minggu (19/3/2017). (*)

Penulis: rfk
Editor: oda
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help