TribunJogja/

Lipsus Perumahan PGOT Mangkrak

Tidak Mudah Mengubah Kondisi Sosial Gepeng

Prof Muhadjir memaparkan, mengubah budaya dan gaya hidup suatu kalangan masyarakat bukan perkara mudah.

Tidak Mudah Mengubah Kondisi Sosial Gepeng
tribunjogja/rento ari
Kondisi Huntap Desaku Menanti di dusun Dugo, Desa Nglanggeran, Patuk yang terbengkelai sejak setahun terakhir. Tidak jelasnya perencanaan dari pemerintah dan lokasi yang terpencil membuat program bernilai lebih dari Rp 1 miliar ini dipertanyakan kelanjutannya. 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Mangkraknya puluhan unit rumah di huntap "Desaku Menanti" di Gunungkidul tak lepas dari belum siapnya pihak terkait melaksanakan program pengentasan untuk kaum Pengemis, Gelandangan dan Orang Terlantar (PGOT).

Menurut Pakar Kebijakan Publik UGM, Prof Muhadjir Darwin, mengubah kondisi sosial yang sifatnya perilaku sosial tidaklah mudah.

"Pembuat kebijakan harus memahami kondisi sosiologi masyarakat. Program semacam Desaku Menanti yang digagas oleh pemerintah ini sudah ada program serupa di lapangan dan cenderung gagal," katanya kepada Tribun Jogja, belum lama ini.

Baca: Puluhan Rumah Program Desaku Menanti Senilai Rp 1,2 Miliar Mangkrak

Prof Muhadjir memaparkan, mengubah budaya dan gaya hidup suatu kalangan masyarakat bukan perkara mudah. Ia mencontohkan, dulu ada program untuk mendaratkan orang laut yang terbukti gagal.

Kebiasaan mereka yang hidup dari mencari ikan, tinggal di perahu, diubah untuk tinggal di darat.

"Contoh lainnya adalah pengentasan para Pekerja Seks Komersial. Mereka yang terbiasa mendapatkan uang dengan cara mudah diajak berubah, diberi keterampilan, diberi modal. Namun nyatanya tidak semudah itu. Banyak yang kembali ke jalan karena ternyata hidup dari menjahit, misalnya, cukup sulit. Mereka harus kerja keras dengan hasil yang tidak sebanyak sebelumnya," ungkapnya.

Untuk pengentasan kehidupan para gepeng, lanjutnya, pemerintah bisa belajar dari Non-Government Organization (NGO) yang pernah menggelar program Pemukiman Pinggir Kali atau girli beberapa tahun sebelumnya di kawasan kota Yogya.

Anak jalanan, pengamen dan kalangan sejenis diberikan rumah tidak jauh dari wilayah lingkungan dimana mereka biasa mencari makan. Rumah ini tidak jauh dari pemukiman penduduk biasa yakni di pinggiran sungai.

"Mereka diberi pelatihan keterampilan dan pelan-pelan diajak keluar dari dunianya selama ini. Mereka disosialkan agar bisa berinteraksi dengan masyarakat pada umumnya. Selain itu mereka juga diberikan pendidikan. Namun proses ini memerlukan waktu yang cukup lama, bertahun-tahun," urainya.

Halaman
12
Penulis: toa
Editor: oda
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help