Lipsus Perumahan PGOT Mangkrak

Peruntukan Huntap Desaku Menanti Masih Digodog

Selama ini pihaknya secara berkala mengadakan pemeliharaan di lokasi tersebut. Terkadang pula upaya ini juga melibatkan masyarakat sekitar.

Peruntukan Huntap Desaku Menanti Masih Digodog
tribunjogja/rento ari
Kondisi Huntap Desaku Menanti di dusun Dugo, Desa Nglanggeran, Patuk yang terbengkelai sejak setahun terakhir. Tidak jelasnya perencanaan dari pemerintah dan lokasi yang terpencil membuat program bernilai lebih dari Rp 1 miliar ini dipertanyakan kelanjutannya. 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Meski telah lebih dari stasiun selesai dibangun, puluhan rumah di hunian tetap (huntap) "Desaku Menanti" di Nglanggeran, Patuk, Gunungkidul belum juga difungsikan.

Dinas Sosial DIY menginformasikan bahwa peruntukan Huntap PGOT di Nglanggeran masih dalam penggodogan. Pemakaian unit tersebut masih dalam pembahasan pihak terkait.

Kasi Rehabilitasi Sosial Tuna Susila dan Korban Napza Dinsos DIY, Ir Baried Wibawa mengatakan, Huntap Desaku Menanti masih menjadi pembahasan oleh pemerintah.

Untuk sementara, fasilitas tersebut memang belum difungsikan.

"Namun, tidak tertutup kemungkinan dialihfungsikan. Misalnya saja untuk tempat pelatihan warga dari kalangan gepeng," katanya ketika ditemui di kantornya, belum lama ini.

Baried menjelaskan, selama ini pihaknya secara berkala mengadakan pemeliharaan di lokasi tersebut. Terkadang pula upaya ini juga melibatkan masyarakat sekitar.

"Bahkan beberapa waktu yang lalu kami mendapat dukungan dari Tagana berupa pembuatan aliran air di sana," imbuhnya.

Mengenai dana besar yang digelontorkan pemerintah untuk membangun hunian ini, Baried tidak menampik.

Baried menerangkan, huntap Desaku menanti terdiri dari 20 pasang rumah yang menggunakan lahan Sultan Ground sekitar 5,6 hektar. Biaya pembangunan tiap unit rumah sekitar Rp 30 juta.

Dengan demikian, total biaya pembangunan 40 unit rumah mencapai Rp 1,2 miliar. Namun biaya untuk penyiapan lokasi ini juga masih ditambah biaya pembangunan talud sekitar Rp 180 juta.

"Tentu saja fasilitas tersebut harus dimanfaatkan, entah sebagai apa. Tidak menutup kemungkinan nanti juga bekerja sama dengan lintas bidang. Namun saat ini masih dalam proses penggodogan," ujarnya.

Baca: Tidak Mudah Mengubah Kondisi Sosial Gepeng

Baried menjelaskan, program tersebut diharapkan bisa berjalan untuk mengentaskan gepeng di DIY. Selama ini, tren jumlah gepeng di DIY masih fluktuatif.

Pada 2013 jumlahnya mulai menurun, pada 2015 kembali naik, kemudian 2016 turun. Sementara pada 2017 ini di beberapa titik tren peningkatan mulai ada.

"Kami memiliki beberapa camp assesment dan panti rehabilitasi sosial untuk penanganan.Kalau Huntap Desaku Menanti difungsikan, tentu gepeng yang berasal dari DIY yang akan menjadi prioritas di sana," tutupnya. (*)

Penulis: toa
Editor: oda
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help