Investor Tertarik Bangun Smelter di Kulonprogo

Berdasarkan pengalaman mereka membangun smelter, maka diprediksi smelter tersebut akan selesai dalam rentang waktu satu tahun.

Investor Tertarik Bangun Smelter di Kulonprogo
tribunjogja/agung ismiyanto
Lokasi tambang pasir ilegal yang ditutup oleh polisi. (ilustrasi) 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Investor yang perusahaannya berpusat di Rusia, Blackspace, tertarik bekerjasama dengan PT Jogja Magasa Mining (JMM) untuk mengolah pasir besi yang berada di Kabupaten Kulonprogo, DIY.

Direktur Blackspace, Yosef Paskananda mengatakan bahwa mereka akan membangun pabrik pengolahan tambang atau smelter ketika sudah tercapai kesepakatan.

"Sementara ini, kami masih membentuk tim kerja. Apakah ke depan bisa kita lakukan kerjasama ini ataukah tidak," jelasnya seusai melakukan pertemuan dengan Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X, di Kepatihan, Kamis (9/3/2017).

Bila kerjasama tersebut benar-benar terwujud, Yosef menuturkan maka pembangunan smelter dilakukan pada Agustus 2016.

Berdasarkan pengalaman mereka membangun smelter, maka diprediksi smelter tersebut akan selesai dalam rentang waktu satu tahun.

"Kita bangun dari hulu sampai hilir," tambahnya.

Yosef menjelaskan, pihaknya telah membangun pabrik pemurnian nikel di Sulawesi Tenggara sejumlah 2 line dan di Sulawesi Tengah sebanyak 52 line.

Berawal dari batu bara, dan juga kereta api, selanjutnya pihaknya merambah smelter nikel tersebut.

"Teknologi yang digunakan untuk smelter, adalah teknologi sendiri. Kita mungkin studi mana yang lebih efisien dan cocok. Ini masih membentuk tim kerja apakah bisa kita tindak lanjuti, karena ada dua pemilik mayoritas dan minoritas. Kita harus berbicara dengan dua grup ini," tandasnya.

Sementara itu, Komisaris PT Jogja Magasa Mining (JMM), Luthfi Heyder mengatakan bahwa yang mendasari kerjasama tersebut adalah karena Blackspace sudah berpengalaman membangun smelter.

"Dan kebetulan kita memulai kembali. Permasalahannya, dua dan tiga tahun yang lalu harga metal di dunia jatuh. Kemudian ada Blackspace yang tertarik untuk itu," ucapnya.

Ia sendiri tidak berani menargetkan terbentuknya smelter di Kulonprogo. Pasalnya butuh waktu yang panjang untuk membuat workshop dari sisi legal, perizinan, keuangan dan juga teknis.

"Kalau itu selesai, kita bertemu, dealnya gimana karena dalam kontrak ada batasan-batasannya apa yang boleh dikerjakan JMM dan apa yang boleh dikerjasamakan," bebernya. (*)

Penulis: kur
Editor: oda
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help