Sambut International Women’s Day 2017, KPP Yogyakarta Gelar Long March

Acara berlangsung di Jalan Abu Bakar Ali dan berakhir di titik 0 KM Yogyakarta pada Rabu (8/3/2017) pukul 10.00 hingga 16.00 WIB.

Sambut International Women’s Day 2017, KPP Yogyakarta Gelar Long March
Mediana Maharani
(KPP) Yogyakarta menggelar aksi long march. Kegiatan ini untuk menyambut International Women’s Day 2017. 

Laporan Reporter Magang Tribun Jogja, Mediana Maharani

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA – Komite Perjuangan Perempuan (KPP) Yogyakarta menggelar aksi long march.

Kegiatan ini untuk menyambut International Women’s Day 2017.

Acara berlangsung di Jalan Abu Bakar Ali dan berakhir di titik 0 KM Yogyakarta pada Rabu (8/3/2017) pukul 10.00 hingga 16.00 WIB.

International Women’s Day merupakan sebuah hari yang diperingati di seluruh dunia untuk mengingat keberhasilan dan capaian-capaian gerakan perempuan di bidang ekonomi, politik dan sosial.

Saat ini, kekerasan seksual menempati peringkat ke-2 di Indonesia.

Dalam laporan catatan akhir tahun Komnas Perempuan pada 2016, pada 2015 lalu angka kekerasan terhadap perempuan meningkat menjadi 321.752 kasus.

Untuk tahun ini Komite Perjuangan Perempuan mengambil tema “Ayo Perempuan Berorganisasi Hancurkan Kapitalisme, Hancurkan Seksisme, Perempuan Berjuang Untuk Tanah, Demokrasi, Kesejahteraan dan Perdamaian”.

Tema ini diambil dari sejarah perempuan yang sudah dimulai lebih dari satu abad yang lalu.

Dalam aksi massa ini, massa yang hadir akan mendapat pengalaman langsung mengambil bagian mereka dalam memperjuangkan hak-haknya.

Hal ini telah disampaikan oleh Humas Komite Perjuangan Perempuan Yogyakarta, Pipin Jamson.

“Hak-hak perempuan yang diperjuangkan yaitu hak untuk mendapatkan tempat kerja yang kondusif, hak kesejahteraan 8 jam kerja, hak reproduksi dan kesehatan seksual perempuan, persoalan upah yang setara, cuti melahirkan, cuti menstruasi dengan tetap dibayar, akses save abortion dan ada 32 tuntutan lainnya,” katanya.

“Pada aksi kali ini, kita menuntut banyak persoalan perempuan tidak hanya mengenai kekerasan pada perempuan yang saat ini sering terjadi. Tetapi juga permasalahan tanah seperti penolakan pembangunan New Yogyakarta International Airport, hotel, apartemen, penggusuran dan melaksanakan reforma agraria sepenuhnya, selain itu juga adanya permasalahan pada kesejahteraan perempuan serta perdamaian dan demokrasi,” ujar Pipin.

Pipin berharap jika perempuan saat ini mampu untuk menyuarakan pendapatnya karena banyak perempuan yang selalu menjadi korban kekerasan namun mereka tidak mampu menyuarakannya. (tribunjogja.com)

Editor: dik
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help