TribunJogja/

Tebing Longsor, Akses Menuju Gereja Promasan Tertutup

Akses jalan kembali dibuka setelah material longsor dibersihkan warga sekitar bersama relawan dan anggota Taruna Siaga Bencana (Tagana).

Tebing Longsor, Akses Menuju Gereja Promasan Tertutup
Tribun Jogja/ Singgih Wahyu Nugraha
Petugas BPBD Kulonprogo tengah melakukan assessment terhadap kejadian longsor di Kalibawang, Rabu (1/3/2017). (ilustrasi) 

TRIBUNJOGJA.COM, KULONPROGO – Tanah longsor terjadi di wilayah Desa Banjaroya, Kecamatan Kalibawang, Minggu (5/3/2017) petang.

Material longsoran menutup akses jalan utama menuju Gereja Santa Maria Loudes Promasan dan Gua Maria Sendangsono.

Kejadian tersebut merupakan longsor susulan. Sepekan sebelumnya tebing mengalami retak dan longsor setelah hujan deras melanda kawasan tersebut.

Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Desa (LPMD) Banjaroya, Esanto mengatakan, kejadian longsor pertama saat itu mengenai sebagian badan jalan menuju Gereja Promasan.

Akses jalan kembali dibuka setelah material longsor dibersihkan warga sekitar bersama relawan dan anggota Taruna Siaga Bencana (Tagana) dengan menggunakan alat berat dari pihak gereja.

“Namun, sepekan kemudian malah longsor lagi di lokasi yang sama. Kondisinya terbilang lebih parah karena material menutup seluruh badan jalan,” katanya, Senin (6/3/2017).

Akibatnya, empat wilayah pedukuhan sempat terisolasi, yaitu Kajoran, Tanjung, dan Semawung di Banjaroya dan Kalisentul di Banjarharjo.

Tertutupnya jalan akibat longsor membuat warga yang akan beribadah ke gereja Promasan maupun berziarah ke Gua Maria Sendangasono sedikit kerepotan.

Pasalnya, mereka harus memutar melalui jalur lain yang relative lebih jauh sekitar 700 meter.

Ruas jalur alternatif pun terbilang lebih sempit. Rombongan peziarah yang datang dengan bus besar harus diturunkan cukup jauh dari lokasi dan melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki.

Untuk mengatasi hal ini, Kerja bakti penyingkiran material longsoran pun kembali dilakukan warga setempat.

“Karena ini jalan utama sehingga masyarakat pun berkepentingan menyelesaikannya,” kata Esanto.

Seorang  peziarah, Paimin, mengatakan pasrah saja ketika diminta memutar kendaraan akibat jalan yang tak bisa dilalui.

Namun begitu, dirinya berharap tidak ada kejadian longsor kembali yng menutup jalan menuju tempat ibadah tersebut. (*)

Penulis: ing
Editor: oda
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help