TribunJogja/

Fenomena Hoax Merata di Banyak Negara

Merajalelanya hoax dan bahkan menjadi mata pencaharian sebagian orang ini tak bisa dilepaskan dari beberapa hal.

Fenomena Hoax Merata di Banyak Negara
Tribun Jogja | Dwi Nourma Handito
Awas Hoax - Seorang warga melihat gambar tentang peringatan hoax di internet, Rabu (22/2). Seiring dengan perkembangan teknologi dan internet, hoax atau kabar palsu banyak bermunculan di dunia maya dan memiliki bermacam jenis. 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Merebaknya berita hoax tidak hanya terjadi di Indonesia. Perkembangan dunia maya yang pesat membuat banyak negara mengalami hal serupa.

Untuk mengatasi hal ini, upaya pemblokiran situs berita hoax bukanlah solusi yang baik.

Praktisi Teknologi Informasi (TI), Josua M Sinambela mengatakan, merajalelanya hoax dan bahkan menjadi mata pencaharian sebagian orang ini tak bisa dilepaskan dari beberapa hal.

Namun utamanya hal ini tak bisa dilepaskan dari kondisi masyarakat yang belum dewasa dalam ber-TI.

Josua mengungkapkan, masyarakat cenderung senang membaca dan membagikan berita-berita yang menurut mereka bagus. Banyak berita tersebut yang memoles atau menjelekkan orang lain, padahal belum tentu benar.

"Berita hoax ini justru dinikmati. Apalagi ketika ada momen Pilkada, apapun bisa dijual oleh orang-orang dalam bisnis ini dengan tujuan untuk menarik perhatian. Banyak kami temukan, mereka belum tentu mendukung seorang tokoh. Pada intinya mereka hanya mencari traffic kunjungan ke web atau situs mereka sebanyak-banyaknya. Dari situ mereka cari keuntungan," katanya.

Mulai maraknya bisnis ini di Yogya menurutnya karena sumber daya industri kreatif yang sangat besar di Yogyakarta dengan banyaknya anak muda dan masyarakat melek TI di sini.

Banyak yang bisa membuat blog, desainer dan kreatif di bidang TI, hingga optimasi media sosial.

"Namun fenomena ini sebenarnya tidak hanya marak di Yogya atau Indonesia saja. Banyak negara di dunia mengalami hal yang sama," ujarnya.

Josua menjelaskan, produsen berita hoax biasanya beroperasi dengan memoles berita yang diambil dari sumber tertentu. Umumnya judul berita diplesetkan atau diplintir sedemikian rupa untuk menarik perhatian.

"Upaya pemblokiran situs semacam itu yang selama ini telah dilakukan pihak berwenang tidak komprehensif. Industri ini seperti jamur. Mati satu tumbuh seribu. Satu situs diblokir, mereka tinggal pindah hosting. Karena itu blokir tidak akan efektif," tegasnya.(*)

Penulis: toa
Editor: oda
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help