Ini Pendapat Pakar Kebijakan Pangan UGM Terkait Melonjaknya Harga Cabai

Padahal, menurutnya, persoalan harga terkait dengan banyak aspek terutama rantai distribusinya.

Ini Pendapat Pakar Kebijakan Pangan UGM Terkait Melonjaknya Harga Cabai
Tribun Jogja/ Panji Purnandaru
Komoditi cabai di Pasar Beringharjo, Selasa (8/11/2016) 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Pakar kebijakan pangan dari pusat studi kependudukan dan kebijakan Universitas Gajah Mada, Dr Evita Hanie Pangaribowo, berpendapat bahwa kasus naiknya harga cabai belakangan ini perlu dilihat dari berbagai aspek.

Apabila pemerintah mengklaim bahwa ini terkait cuaca, maka hanya aspek produksi yang dilihat.

Padahal, menurutnya, persoalan harga terkait dengan banyak aspek terutama rantai distribusinya.

Pemerintah sebetulnya bisa memetakan hulu hingga hilir distribusi baham pangan, agar lebih mudah mengidentifikasi titik apa yang paling mempengaruhi kenaikan harga.

Selanjutnya, menentukan bentuk intervensi yang tepat guna menstabilkan harga cabai.

Mengingat pasokan cabai rawit secara nasional sebetulnya masih surplus, kebutuhan konsumsi masyarakat mencapai 68 ribu ton, sementara total produksinya mencapai 73 ribu ton.

"Kita tidak tahu siapa sebetulnya yang paling mendapatkan keuntungan dari ini. Jika harga cabai tinggi, seharusnya petani bisa meraup untung yang lebih dari biasanya. Tapi ini tidak demikian," ujar Evita.

Berangkat dari kasus melambungnya harga cabai, bagi Evita, pemerintah perlu menjaga betul harga pangan sehingga inflasi tidak tinggi dan daya beli masyarakat tidak terganggu.

Terlebih diwaktu yang hampir bersamaan, sejumlah harga-harga yang diatur oleh pemerintah seperti tarif listrik, bahan bakar minyak, cukai rokok, dan administrasi surat kendaraan bermotor juga mengalami kenaikan.

Evita kembali mengatakan, jika pemerintah bersikukuh bahwa ini merupakan persoalan cuaca, maka pemerintah pun seharusnya memikirkan mekanisme yang tepat untuk membantu petani mengahadapi perubahan cuaca.

Saat cuaca ekstrim, gagal panen bisa saja terjadi dan ini merupakan pukulan telak bagi para petani. Hasil pertanian memang sangat rentan terhadap perubahan cuaca. (*)

Editor: ton
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help