Ruang Kelas Sempit Jadi Penghambat Tercapainya SPM Dikdas

Dari 27 indikator SPM Dikdas, Edy melanjutkan sebenarnya mudah dicapai oleh sekolah-sekolah di Yogyakarta.

Laporan Reporter Tribun Jogja, Arfiansyah Panji Purnandaru

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Jaminan bahwa setiap Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) tersedia kondisi minimal demi keberlangsungan proses belajar mengajar adalah tujuan dari Standar Pelayanan Minimal Pendidikan Dasar (SPM Dikdas).

Hal tersebut merujuk Peraturan Mendikbud No 23 Tahun 2013 tentang SPM Dikdas di Kabupaten atau Kota mengatur prinsip serta indikator SPM Dikdas yang harus dipenuhi di berbagai penjuru tanah air.

Terkait tercapainya 27 indikator SPM Dikdas di kota Yogyakarta, Edy Heri Suasana, Kepala Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta menjelaskan SPM Dikdas sudah dilakukan di SD dan SMP di kota Yogyakarta.

Fokusnya melalui ketercapaian delapan Standar Nasional Pendidikan terlebih dahulu.

"Kita capai melalui delapan Standar Nasional Pendidikan dahulu. Baru setelah itu merambah pelayanan baku di masyarakat seperti adminisatrasi dan sebagainya," jelasnya, Selasa (29/11/2016).

Dari 27 indikator SPM Dikdas, Edy melanjutkan sebenarnya mudah dicapai oleh sekolah-sekolah di Yogyakarta.

Namun, kendala teknis seperti ruang kelas yang masih terbatas menjadi persoalan. Apalagi, banyak sekolah yang masuk kategori cagar budaya sehingga sulit dilakukan renovasi maupun perluasan.

"Sudah terpenuhi 32 siswa per kelas. Tapi saya harus jujur ruang-ruang kita kurang luas. Tapi tidak mungkin kita membongkar ruang supaya cukup karena kebanyakan masuk kategori haritage," jelasnya.

Sementara, untuk kualitas guru, Edy menjamin bahwa guru-guru yang ada di kota Yogyakarta sangat berkompeten. Semua guru sudah sarjana dan menguasai Ilmu Teknologi. (*)

Ikuti kami di
Penulis: app
Editor: ton
Sumber: Tribun Jogja
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2016
About Us
Help