Peringatan Dies Natalis ke-67, UGM Tonjolkan Semangat Bhineka Tunggal Ika

Salah satu agenda dari rangkaian Dies Natalis UGM ke-67 adalah Niti Laku Perguruan Kebangsaan

Peringatan Dies Natalis ke-67, UGM Tonjolkan Semangat Bhineka Tunggal Ika
homekarir.com
Kampus UGM Yogyakarta 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Arfiansyah Panji Purnandaru

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Dies Natalis Universitas Gadjah Mada (UGM) yang ke-67 akan jatuh pada 19 Desember mendatang.

Di tanggal tersebut menjadi rangkaian puncak dari acara Dies Natalis bertema "Dari UGM untuk Indonesia Sehat" yang berlangsung sejak Bulan September.

Salah satu agenda dari rangkaian Dies Natalis UGM ke-67 adalah Niti Laku Perguruan Kebangsaan yang dilangsungkan pada 18 Desember.

Budi Setyono, Ketua Alumni Menwa UGM sekaligus mewakili panitia menjelaskan, diikuti oleh sekitar 6000 peserta, Niti Laku Perguruan Kebangsaan menggambarkan dan memaknai keanekaragaman bangsa ini.

Ketua Program Studi Agama dan Lintas Bydaya (CRCS), Sekolah Pascasarjana, UGM, Dr Zainal Abidin Bagir menjelaskan semangat memperteguh Bhineka Tunggal Ika yang ditonjolkan merespon perkembangan akhir-akhir ini. Selain itu, juga merawat semangat tersebut.

"Kita tahu ada situasi nasional yang cukup ramai seperti demo di jakarta. Ada isyarat potensi ancaman terhadap Kebhinekaan Tungaal Ika. Indonesia punya sejarah kuat dalam toleransi dan lain sebagainya. Setelah reformasi sempat ada konflik-konflik komunal yang besar, tetapi bisa diselesaikan dengan baik. Dan itu perlu menjadi inspirasi," jelasnya, Rabu (30/11/2016)

Zainal menambahkan, upaya merawat dan menghidupkan semangat Bhineka Tunggal Ika berarti berani menyelesaikan masalah-masalah sulit dan sensitif atau yang terkadang diidentifikasikan sebagai sara melalui penegakan hukum atau cara-cara penyelesaian berprinsip.

Perlu disadari juga, Bhineka Tunggal Ika bukan sekedar perayaan perbedaan dalam persatuan, tetapi mensyaratkan juga terjaminnya keadilan sosial ekonomi bagi seluruh rakyat Indonesia.

Sosiolog UGM, Dr M Najib S.sos MA menjelaskan saat ini ruang berdiskusi kebangsaan sedang keruh dengan konteks penuh prasangka dan fitnah di sosial media.

"Kampus sebagai mata air inspirasi harus memberikan pencerahan melalui kandungan studi dan penelitian," jelasnya

Lanjut Najib, Indonesia sebenarnya merupakan salah satu acuan pengelolaan mulitkulturalisme di dunia. Hal tersebut saat ini menjadi tantangan, karena banyak negara yang belajar pluralisme dari Indonesia.(*)

Ikuti kami di
Penulis: app
Editor: ton
Sumber: Tribun Jogja
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2016
About Us
Help