Perajin Kudus Pertahankan Mesin Kuno Pembuat Bordir

Perajin Kudus banyak yang masih menggunakan mesin bordir kuno yang menghasilkan produk berkualitas.

Perajin Kudus Pertahankan Mesin Kuno Pembuat Bordir
ist

Laporan Reporter Tribun Jogja, Gaya Lufityanti

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Kreasi bordir sudah melekat pada industri fashion di Kabupaten Kudus. Bordir merupakan aksen cantik yang menghiasi ujung sebuah pakaian.

Biasanya, bordir ini dapat menggambarkan keindahan bunga, dedauan hingga hewan.

Kudus sendiri memiliki kekhasan dalam motif bordirnya. Selain motif bunga nan elegan, bordir Kudus ini juga menghadirkan motif burung yang menawan.

Warna-warna yang disajikan pun terbilang cukup berani, yakni ungu, orange, hijau hingga merah muda.

"Jaman dulu hingga kini, bordir memang identik dengan kebaya. Namun sekarang sudah ada pergeseran, bordir digunakan pada sepatu, tas, taplak meja hingga tempat tisu," ujar pemilik Dahlia Bordir Kudus, Sa'adah.

Keistimewaan bordir asal Kudus ini tak hanya pada motifnya, namun juga pada mesin pembuat bordirnya.

Perajin Kudus banyak yang masih menggunakan mesin bordir kuno yang menghasilkan produk berkualitas. Menurut Sa'adah, mesin berukuran kecil ini mampu membuat desain tersulit sekalipun.

Perajin bordir manual ini harus berhadapan dengan gempuran mesin bordir komputer yang relatif lebih mudah dioperasikan. Bordir manual memang membutuhkan kesabaran dan skill yang terasah. Ini yang menyebabkan anak muda setempat enggan mempelajari bordir manual yang relatif lebih sulit, sehingga regenerasi perajin bordir pun terbilang minim.

"SDM di Kudus sudah mulai menipis, saya sempat buka kursus bordir gratis pun anak muda masih tidak berkenan ikut. Padahal dari ratusan perajin bordir, hanya beberapa saja yang mampu mengoperasikan bordir manual," bebernya.

Menghadapi hambatan mesin komputer, Sa'adah dan para perajin bordir manual lainnya mengaku tidak khawatir lantaran produk mereka masih banyak dicari. Menurutnya, ada perbedaan kualitas yang menonjol antara bordir manual dan bordir komputer. Terlebih, harga produk bordir manual bisa dibanderol mulai Rp 200 ribu hingga Rp 3 juta per lembarnya.

"Pasarnya selama ini memang masih banyak untuk ibu-ibu. Untuk segmen anak muda, seringnya kami mengkreasikan kebaya lengan pendek," tutupnya. (*)

Ikuti kami di
Penulis: gya
Editor: ton
Sumber: Tribun Jogja
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2016
About Us
Help