Pengguna Medsos Harus Saling Mengingatkan

Dengan adanya UU ITE, semua rawan untuk terjerat karena hanya postingan di Medsos.

Pengguna Medsos Harus Saling Mengingatkan
net
Facebook 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Dwi Nourma Handito

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Media sosial (medsos) saat ini seolah menjadi pisau bermata dua bagi pemiliknya, jika tidak hati-hati maka urusan dengan penegak hukum akan terjadi.

Dengan adanya UU ITE, semua rawan untuk terjerat karena hanya postingan di Medsos.

Josua Sinambela, Konsultan Teknologi Informasi yang juga seorang Ahli yang menangani kasus terkait internet mengatakan bahwa saat ini semua orang bisa terjerat hukum hanya karena media sosial. Sehingga harus benar-benar berhati-hati.

"Sekarang ada undang-undang ITE, sebelum direvisi pun sama bisa dikenakan. Cuman sekarang jadi lebih agresif. Artinya setiap pengguna harus berhati-hati, " ujarnya menjawab pertanyaan Tribun di sela diskusi tentang BlackOPS, Keterlibatan Pasukan Cyber Dalam Pertarungan Pilkada di Jogja Digital Valley, Selasa (29/11/2016) kemarin.

Meski tidak membuat konten, menurut Josua pengguna medsos bisa terjerat hanya karena melakukan satu kali klik untuk menshare sesuatu hal yang belum terverifikasi.

Jika tidak ingin memverifikasi maka pengguna medsos disarankan untuk tidak menshare sebuah informasi.

Hal lain yang harus dilakukan adalah pengguna media sosial yang mengetahui tentang jerat UU ITE diharapkan memberikan pemahaman kepada koneksinya agar tidak melanggar UU ITE.

"Jangan hanya sekedar share, ini membuat mereka suatu saat bisa terkena. Makanya harus hati hati, misalnya gak hati hati mungkin ada yang gak suka bisa dilaporkan," kata Josua.

Sebagai seorang ahli dan saksi ahli untuk beberapa kasus yang berkaitan dengan kasus internet, Josua mengatakan bahwa kasus kasus yang terkait UU ITE cukup banyak.

Dimana semua kasus tidak hanya kasus besar saja yang sebenarnya bisa diproses, namun menurutnya saat ini ada kendala di SDM lembaga yang menangani, sehingga ada prioritas kasus yang ditangani.

"Saat ini saya sedang menangangi banyak kasus sampai numpuk numpuk. Semua bisa diproses, meski ada yang diprioritaskan, " katanya.

Ditanya terkait apakah mudah atau sulit untuk mencari penyebar info hoax, provokasi atau hal hal lain yang negatif, menurutnya itu sangat bisa dilakukan, karena di media sosial ada parameter parameter yang bisa ditelusuri. Meski prosesnya cukup panjang dan membutuhkan tim.

Adapun untuk pelaku penyebar atau pembuat informasi hoax atau provokasi menurut Josua adalah orang orang yang terorganisir.

Informasi itu disebarkan tidak hanya melalui akun palsu, namun juga menggunakan akun orang lain yang dibobol atau di-hack. Sehingga bisa jadi pemilik akun tidak mengetahui jika akunnya disalahgunakan. (*)

Ikuti kami di
Penulis: dnh
Editor: ton
Sumber: Tribun Jogja
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2016
About Us
Help