TribunJogja/

Twitter Relatif Lebih Banyak Digunakan Sebagai Media Aktivitas Prostitusi Online

Pelaku prostitusi serta pengguna jasanya kini tidak lagi dibatasi oleh ruang dan waktu dan dengan identitas pelaku yang semakin tersembunyi.

Twitter Relatif Lebih Banyak Digunakan Sebagai Media Aktivitas Prostitusi Online
ilustrasi 

TRIBUNJOGJA.COM - Yudi Prayudi, S.Si, M.Kom dari Pusat Studi Forensika Digital (PUSFID), Teknik Informatika Universitas Islam Indonesia, menuturkan prostitusi adalah bagian dari peradaban manusia yang sudah berlangsung berabad-abad lamanya.

Pro dan kontra terhadap prostitusi ini tidak lepas dari konstruksi hukum di masyarakat terhadap aktivitas prostitusi tersebut. Indonesia termasuk negara yang memandang prostitusi adalah sebagai aktivitas ilegal yang bertentangan dengan hukum, susila dan agama.

Karena itu, berbagai upaya dilakukan oleh pemerintah maupun masyarakat untuk menghilangkan aktivitas prostitusi di masyarakat. Program Walikota Surabaya, Tri Rismaharini untuk menutup lokasisasi Dolly adalah salah satu program yang cukup fenomenal.

Permasalahan lain kini kemudian muncul dengan nama Prostitusi online. Hal ini sebenarnya hanyalah sebuah metode atau pendekatan baru yang digunakan dalam menjalan bisnis dan aktivitas ini.

Teknologi informasi telah menjadi media bagi munculnya modus baru dalam menjalankan prostitusi.

Kecenderungan semakin meningkat pengguna dan mudah akses internet telah menjadi pemicu meningkatnya user pengguna aplikasi social media seperti Facebook, Twitter, Instagram dan lainnya. Hal inilah yang berdampak langsung pada munculnya modus baru prostitusi online.

Melalui teknologi informasi tersebut maka dimensi aktivitas prostitusi menjadi semakin luas dan semakin kompleks. Pelaku prostitusi serta pengguna jasanya kini tidak lagi dibatasi oleh ruang dan waktu dan dengan identitas pelaku yang semakin tersembunyi.

Di antara sekian banyak aplikasi media sosial, maka Twitter relatif lebih banyak digunakan sebagai media untuk kepentingan aktivitas prostitusi online.

Hal ini tidak lepas dari kemudahan untuk melakukan sifat anonim dengan nama yang sangat fleksibel dibandingkan dengan akun di facebook ataupun instagram.

Umumnya akun-akun yang terindikasi menjalankan prostitusi online terlihat dari nama akunnya yang mengarah pada akun yang menggoda, kemudian postingan foto dan tweet yang mengarah pada informasi jasa yang ditawarkan.

Halaman
1234
Penulis: abm
Editor: oda
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help