Polisi Ringkus Preman yang Melakukan Aksi Palak dan Mengacak-acak Warung Angkringan

Tersangka Waluyo tertangkap tangan oleh petugas Polresta Yogyakarta yang sedang berpatroli.

Polisi Ringkus Preman yang Melakukan Aksi Palak dan Mengacak-acak Warung Angkringan
ist
Ilustrasi 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Santo Ari

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Aksi arogan seorang preman berakhir setelah petugas kepolisian meringkusnya, Rabu (15/6/2016) malam kemarin.

AK alias Waluyo (29) warga asli Gunungkidul yang tinggal di Celeban, Yogyakarta, ketahuan memalak pedagang angkringan di wilayah Umbulharjo.

Tersangka Waluyo tertangkap tangan oleh petugas Polresta Yogyakarta yang sedang berpatroli.

Ia membuat keributan dengan mengacak-ngacak makanan dagangan di angkringan tersebut.

Aksi preman yang dilakukan Waluyo terhenti setelah petugas dengan cepat meringkus tersangka dan mengamankan barang bukti yang dibawanya.

"Saat itu ia berusaha untuk memalak pedagang angkringan. Kami mengamankan barang bukti berupa senjata tajam jenis pedang, sebo penutup wajah, dan satu motor miliknya, dan uang Rp 200 ribu hasil dia memalak pedagang angkringan," ungkap Kasat Reskrim Polresta Yogyakarta AKP Akbar Bantilan, Kamis (16/6/2016).

Petugas lantas menggelandang Waluyo untuk dilakukan pemeriksaan lebih mendalam di Mapolresta Yogyakarta. Dari pemeriksaan yang dilakukan, terungkap tersangka sudah melakukan aksi premanisme berupa pemalakan selama dua bulan terakhir.

Dua korban yang merupakan penjual makanan mengadu ke kepolisian lantaran kerap diperas oleh tersangka. Dengan kurun waktu selama dua bulan dan di waktu yang tak ditentukan ia mendatangi warung angkringan dan warung mie burjo dan memintai uang ke penjual.

"Korban lebih dari satu, tersangka ini meresahkan karena berkali-kali meminta jatah preman ke penjual angkringan dan warung burjo," ujarnya.

"Selama dua bulan ini ia beraksi. Sekali minta dikasih, minta lagi untuk kedua kali juga dikasih, akhirnya keterusan." tambahnya.

Selama beraksi, tersangka selalu menenteng senjata tajam di pinggangnya. Hal itu dilakukan untuk menakut-nakuti korbannya.

Sementara setiap berhasil melakukan pemerasan, ia bisa mengantongi Rp 100 ribu hingga Rp 200 ribu dari setiap korbannya.(*)

Penulis: nto
Editor: ton
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help